Melawan Hawa Nafsu, Mengapa Jadi Jihad Terbesar?
Dalam sebuah perkuliahan kitab Al-Iqtisad fil I’tiqad karya Al-Imam Al-Ghazali di Ma’had Aly Darussalam, Ustaz Abdul Hamid mengajukan sebuah pertanyaan pemantik. Beliau meminta para mahasantri menjelaskan alasan jihad melawan hawa nafsu jauh lebih berat daripada jihad melawan orang kafir.
Pertanyaan tersebut merujuk pada sebuah hadis yang disampaikan oleh Rasulullah saw. selepas berkecamuknya Perang Badar.
“Kita telah kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar.” Para sahabat lantas bertanya tentang maksud jihad akbar tersebut, lalu Rasulullah saw. menjawab, “Jihad melawan hawa nafsu.”
Secara realistis, jihad di medan perang melawan orang kafir tentu sangat berat karena taruhannya adalah hilangnya nyawa. Hanya segelintir orang yang memiliki mental sekuat baja untuk terjun ke medan laga dan mengorbankan jiwa.
Seorang mahasantri sempat menjawab bahwa musuh di medan perang terlihat, sedangkan hawa nafsu merupakan musuh yang tidak kasatmata. Mendengar jawaban itu, seluruh ruang kelas sempat terkesima karena argumen tersebut terasa sangat masuk akal.
Meskipun demikian, Ustaz Abdul Hamid menilai jawaban tersebut kurang tepat beserta beberapa jawaban dari mahasantri lainnya. Beliau kemudian meluruskan penafsiran tersebut dengan memaparkan alasan substantif mengapa perang melawan nafsu jauh lebih berat.
Beliau menjelaskan bahwa jihad mengangkat senjata melawan orang-orang kafir di medan pertempuran itu sifatnya hanyalah temporer. Perang paling lama seperti Perang Salib sekalipun tetap memiliki jeda waktu untuk beristirahat dan menyusun strategi baru.
Sebaliknya, perang menundukkan hawa nafsu harus dilakukan setiap hari, setiap saat, dan sepanjang tahun hingga ajal menjemput. Manusia tidak diberikan jeda waktu sedikit pun untuk beristirahat maupun kelonggaran untuk menyusun strategi menghadapi nafsunya.
Logika bahwa melawan sesuatu yang bersifat selamanya tentu lebih berat daripada melawan yang temporer sangat membekas di hati. Penjelasan dari guru kami ini ternyata selaras dengan keterangan di dalam kitab Dalilul Falihin li Turuqi Riyadhish Shalihin.
Kitab syarah tersebut ditulis oleh Al-Imam Ibnu Allan, salah seorang ulama pakar fikih terkemuka dari Mazhab Syafi’i. Beliau memberikan ulasan mendalam saat menafsirkan hadis tentang kepulangan dari Perang Badar di atas.
«رجعنا من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر» أي: من جهاد العدوّ إلى جهاد النفس، إذ جهاد الكفار إنما شرع بالخروج عن النفس والأولاد والأموال لإعلاء كلمة الله تعالى مع تكميل النفس بخروجها عن مألوفاتها ومستلذاتها، لكنه لا يدوم زمنه بل يكون برهة وتنقضي، وهذه الأعمال دائمة وذلك التكميل موجود فيها بزيادة
“Karena jihad melawan orang-orang kafir dijalankan dengan cara mengendalikan ego diri, meninggalkan anak serta istri, dengan tujuan untuk meninggikan kalimat Allah Swt, beserta menyempurnakan nafsu dengan mengekangnya dari hal-hal yang menjadi kebiasaan dan keinginannya. Namun, hal itu hanya bersifat sementara dan tentu akan berakhir. Sedangkan jihad melawan nafsu bersifat selamanya, tak akan berakhir, juga terdapat pengekangan nafsu dari hal-hal yang menjadi kebiasaan dan keinginannya bahkan lebih dari itu.” (Dalilul Falihin li Turuqi Riyadhish Shalihin, Juz 2, Hlm. 372).






