Al-Ghazali dan Syatahat Sufi: Menjaga Syariat dari Bias Spiritual
Dalam khazanah tasawuf, syatahat merujuk pada ucapan ganjil seorang sufi ketika berada dalam kondisi fana’ (ketidaksadaran diri) dan sukr (mabuk cinta ilahi). Tokoh besar seperti Abu Yazid Al-Busthami dengan ucapan “Subhani” dan Al-Hallaj dengan “Ana al-Haqq” sering menjadi pemantik diskusi panjang di kalangan ulama.
Fenomena kontroversial tersebut mendorong Imam Al-Ghazali sebagai Hujjatul Islam untuk memberikan ulasan yang sangat sistematis dan mendalam. Beliau memandang syatahat bukan sebagai unsur kesengajaan untuk menyesatkan, melainkan murni dari luapan emosi spiritual atau dzauq yang tidak terbendung.
Luapan spiritual ini selaras dengan kedekatan hamba dan penciptanya sebagaimana tergambar jelas dalam sebuah hadis qudsi. Kitab Madkhal ila at-Tasawwuf al-Islami mencatat riwayat yang menjelaskan kondisi peleburan batiniyah tersebut secara gamblang.
ولا يزال العبد يتقرب الي بالنوافل حتى أحبه فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به، وبصره الذي يبصر به ولسانه الذي ينطق به.
“Jika seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunah maka Aku akan mencintainya, dan apabila Aku telah mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, serta lisannya yang ia gunakan untuk berbicara.”
Ketika seorang hamba mencapai maqam (tingkatan) kedekatan yang sangat tinggi dengan Tuhan, ia sering kali kehilangan kesadaran akan eksistensi dirinya. Namun, Al-Ghazali senantiasa mengingatkan batasan ekspresi spiritual tersebut di dalam kitabnya yang berjudul Al-Munqidh min ad-Dalal.
ثم يترقى الحال من مشاهدة الصور والأمثال، إلى درجات يضيق عنها النطق، فلا يحاول معبر أن يعبر عنها إلا اشتمل لفظه على خطأ صريح لا يمكنه الاحتراز عنه.
“Kemudian, keadaan rohani meningkat dari sekadar penyaksian wujud dan perumpamaan menuju tingkatan yang amat sulit diungkapkan, sehingga tiada seorang pun yang mencoba mengucapkannya melainkan kata-katanya pasti mengandung kekeliruan nyata yang mustahil dihindari.”
Realitas spiritual yang dirasakan sufi secara batiniyah memang sering kali gagal diterjemahkan ke dalam bahasa manusia yang serba terbatas. Oleh karena itu, syatahat pada hakikatnya hanyalah kegagalan lisan dalam mengekspresikan pengalaman ilahiah yang sejatinya tidak dapat digambarkan.
Meskipun memahami latar belakang psikologis para sufi, Al-Ghazali tetap memberikan kritik tajam demi menjaga tatanan hukum syariat dan akidah umat. Sikap waspada tersebut didasari oleh potensi kesalahpahaman teologis yang dapat menyerempet konsep ittihad (penyatuan hamba dengan Tuhan) maupun hulul (penitisan Tuhan pada manusia).
Melalui kitab Al-Maqshad al-Asna, beliau secara tegas menolak pemahaman yang mencoba mengaburkan batas antara keagungan Sang Khalik dan kelemahan makhluk. Al-Ghazali juga sangat mengkhawatirkan timbulnya fitnah di kalangan masyarakat awam jika ucapan-ucapan syatahat tersebar luas secara serampangan.
Peringatan keras mengenai bahaya penyebaran ungkapan tasawuf tingkat tinggi di ruang publik ini ditegaskan kembali dalam mahakaryanya, Ihya’ ‘Ulumiddin. Beliau menyoroti kelakuan masyarakat awam yang menyalahgunakan fenomena syatahat sekadar demi melegitimasi kemalasan mereka dalam beribadah.






