Dubes: Asing Acak-Acak Sudan karena Kaya Sumber Daya Alam
Ketika wafat pada 1943, Presiden Sukarno datang melayat dan mengantar jenazahnya ke pemakaman, sebagai bentuk penghormatan negara.
Dubes Yassir mendorong kerja sama di bidang pendidikan, meliputi pertukaran mahasiswa, beasiswa, dan penelitian, serta di bidang budaya melalui pertukaran seni dan promosi warisan budaya.
Ia mengatakan jumlah mahasiswa Sudan yang belajar di Indonesia masih relatif terbatas. “Untuk angkanya belum ada angka resmi yang dikeluarkan,” ujar dia.
Jumlah mahasiswa Indonesia yang saat ini terdata belajar di Sudan sekitar 838 orang. Data ini berasal dari laporan Persatuan Pelajar Indonesia di Sudan (PPI Sudan) yang mencatat jumlah pelajar Indonesia yang terdaftar di negara itu sebelum dan saat konflik berlangsung.
Di sektor bisnis, peluang investasi dan perdagangan terus diperluas, khususnya di energi, pertanian, dan perdagangan umum.
Terkait perdagangan bilateral, Dubes Yassir menyebut nilainya masih relatif kecil, kurang dari 50 juta dolar AS (sekitar 839,4 miliar rupiah). Indonesia mengekspor pakaian, kosmetik, farmasi, dan minyak sawit, sementara Sudan mengekspor kacang, wijen, dan kapas.
“Volume perdagangan masih kecil, sehingga potensi peningkatan sangat besar. Pemerintah Sudan mengundang investor Indonesia untuk menanamkan investasi dan siap memfasilitasi kebutuhan terkait lahan, izin, dan keamanan,” kata dia.[]
sumber: ANTARA/Inews.






