Krisis Sudan Jauh Lebih Buruk daripada yang Diakui
Bahkan di Khartoum, tempat pertempuran sudah tidak lagi berlangsung, situasi kemanusiaannya sangat memprihatinkan.
Oleh: Zia Salik*
Saya baru-baru ini mengunjungi Khartoum untuk pertama kalinya sejak perang dimulai.
Dengan cepat saya menyadari bahwa dunia masih belum sepenuhnya memahami apa yang telah terjadi di sana.
Di jalan-jalan ibu kota Sudan itu, kehancurannya tampak seperti kiamat.
Kota yang dulunya berpenduduk tujuh juta orang terlihat hampir kosong ketika kami melintasi berbagai distriknya.
Hampir semua bangunan hancur atau sebagian rata akibat pengeboman dan serangan udara, sementara bangunan yang masih berdiri dipenuhi lubang peluru.
Dalam 30 tahun bekerja bersama Islamic Relief, saya belum pernah melihat kehancuran sebesar ini.
Sulitnya akses ke banyak wilayah, serta anggapan bahwa ini adalah perang rumit di tempat yang jauh, membuat krisis ini tidak mendapatkan perhatian internasional yang seharusnya.
Hingga kini tercatat lebih dari 58.000 kematian. Namun, korban sebenarnya bisa mencapai 150.000 orang.
Sulit melacak jumlah korban ketika infrastruktur negara hancur dan jutaan orang mengungsi.
Orang-orang tidak hanya meninggal akibat kekerasan, tetapi juga karena penyakit dan kelaparan.
Wabah kolera, hepatitis virus, meningitis, demam kuning, dan berbagai penyakit menular lainnya terus berulang.
Perang ini telah menciptakan krisis kelaparan terbesar di dunia, di mana 29 juta orang — 62 persen populasi — kini tidak memiliki cukup makanan.
Kelaparan pun terus meluas.
Dapur umum komunitas yang dijalankan para relawan menjadi garda terdepan dalam upaya mencegah kelaparan, namun mereka sangat membutuhkan dukungan tambahan.






