NUIM HIDAYAT

Ejaan Bahasa Indonesia yang Membingungkan

Kini, ketika peradaban Barat yang menguasai dunia, bahasa Inggris menjadi bahasa yang sangat populer dalam ilmu pengetahuan. Bahasa Inggris kita serap dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari, seperti: manajemen, komputer, organisasi, politik, mal, konstitusi, modern, film, kontrol, teknik, multikultur, moderat dan lain-lain.

Bahkan saking tingginya kedudukan bahasa Inggris, sehingga seolah-olah mereka yang punya kemampuan bahasa Inggris intelektualitasnya lebih tinggi dari ahli bahasa lain. Padahal mengukur kadar kecerdasan seseorang tidaklah hanya dalam bahasa aja, karena ada kecerdasan logika-matematika, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan kinestetik/jasmani dan kecerdasan naturalis (lihat Howard Gardner dengan teori ‘Multiple Intelligences‘ nya).

Maka ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof Abdul Mu’ti mengganti istilah peserta didik/siswa menjadi murid, kita sangat bersyukur. Sang menteri mengumumkan pergantian istilah ini pada 3 Maret 2025 lalu. Ia memahami bahwa makna murid jauh lebih mendalam maknanya daripada peserta didik/siswa.

Murid berasal dari bahasa Arab ‘arada-yuridu-iradatan-muridan’. Murid berarti anak atau orang yang mempunyai kehendak/cita-cita. Ia mempunyai cita-cita tinggi sebagaimana yang dikehendaki gurunya. Bahkan mungkin cita-citanya lebih tinggi dari gurunya.

Dalam Islam cita-cita yang paling tinggi itu bukanlah menjadi anggota DPR, gubernur, menteri, dokter atau presiden. Cita-cita yang tertinggi seorang Muslim itu adalah menjadi pemimpin orang-orang yang bertakwa, apapun profesinya. Al-Qur’an menyatakan,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang orang yang berkata,“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqan: 74)

Wallahu alimun hakim. []

Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button