Ejaan Bahasa Indonesia yang Membingungkan
Ketika menjadi manajer sebuah penerbitan buku, pasa 2006 silam saya mengikuti pelatihan bahasa yang diadakan oleh Badan Bahasa di Jakarta.
Dalam forum itu saya bertanya kenapa dalam perubahan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, bunyi kata yang dipentingkan. Misalnya “organisation” berubah menjadi organisasi, “management” berubah menjadi manajemen. Tapi perubahan dalam bahasa Arab ke bahasa Indonesia bunyi kata kok tidak dipentingkan. Saya contohkan kenapa “shalat” dalam ‘KBBI’ ditulis salat, “ramadhan” ditulis ramadan. “Thawaf” ditulis tawaf. Narasumber dalam acara itu ‘bingung’ menjawabnya.
Memang kalau kita mengamati Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nampak tidak ada kekonsistenan di dalamnya. Dalam beberapa kata, seperti ‘ada usaha’ menjauhkan rakyat Indonesia -yang mayoritas Muslim- dari bahasa Arab yang fushah (resmi).
Penulisan kata salat bukan shalat misalnya, alasan editor KBBI karena bahasa Indonesia memakai satu huruf untuk satu bunyi (fonem). Ini kan alasan yang dibuat-buat. Karena dalam bahasa Indonesia, ada dua huruf untuk satu bunyi, misalnya kata: syair, syahdan, syahbandar, syahdu, syahwat dan lain-lain.
Penulisan lafadz-lafadz yang membingungkan itu, menjadikan banyak penerbit buku Islam, kadang tidak mengikuti pedoman KBBI dalam penulisan kata atau kalimatnya. Mereka menuliskan kata: shalat, ramadhan, maghrib, hadits, taqwa, ustadz dan lain-lain.
Kita juga bertanya kenapa huruf tsa‘ (ts) diubah menjadi s. Sehingga bagi orang yang mengerti bahasa Arab jadi aneh perubahannya: hadits menjadi hadis, hadats menjadi hadas, tsabit menjadi sabit dan lain-lain.
Yang aneh juga perubahan huruf fa‘ (f) menjadi p. Misalnya: nafas diubah menjadi napas, fikir diubah menjadi pikir dan seterunya. Tapi di sisi lain, KBBI tetap menggunakan kata: fatwa, firman, fitrah, nafsu dan lain-lain. Ada tidak kekonsistenan dalam perubahan itu.
Ada juga perubahan dari huruf qaf (q) menjadi k. Misalnya: aqidah menjadi akidah, taqwa menjadi takwa, quwwah menjadi kuat, qishah menjadi kisah. Tapi akan aneh apabila dikatakan: kisas (qisas), kadi (qadhi), kiyas (qiyas) dan lain-lain.
Perubahan yang aneh juga terjadi pada huruf dzal (dz) diubah menjadi z. Misal: ustadz menjadi ustaz, dzikir menjadi zikir, dzalim menjadi zalim dan seterusnya. Tapi ada yang tetap maka huruf dz, seperti : dzulhijah, dzulqa’dah dan lain-lain.
Dalam studi yang dilakukan oleh Faizmailiatus Sofa dan Tulus Musthofa di UIN Sunan Kalijaga (2022), ditemukan bahwa perubahan bunyi dan penggunaan kata serapan Arab yang telah termodifikasi dalam bahasa Indonesia dapat berdampak negatif pada proses pembelajaran bahasa Arab, karena pelajar akan sulit menghubungkan kata serapan di KBBI dengan bentuk dan pelafalan kata Arab asli.
Adapun permasalahan serapan bahasa, juga dipengaruhi oleh peradaban dunia yang sedang berkuasa. Ketika peradaban Islam menguasai dunia lebih dari 1000 tahun (abad ke-7 sampai 19), bahasa Arab menjadi bahasa yang mendunia. Pengaruh bahasa Arab banyak mempengaruhi bangsa-bangsa di dunia, termasuk bangsa/bahasa Melayu di Nusantara.
Ribuan kata masuk ke perbendaharaan bahasa Melayu seperti: akal, fikir, nafsu, badan, jasad, maksiyat, manfaat, mudharat, fardu (perlu), kuat, misal, hukum, adil, rakyat, musyawarah, kitab, murid, ulama, madrasah, kuliyah, jamaah, adab, siasat, majalah dan lain-lain.






