Gambarkan Situasi di Rumah Sakit Gaza, Dokter Australia: Ini adalah Pembantaian
Aziz mengatakan bahwa pada Ahad, serangan Israel juga menewaskan salah satu staf perawat rumah sakit beserta istrinya.
“Anak mereka satu-satunya yang selamat, berusia 11 tahun, menderita luka bakar di wajahnya. Saya bahkan tidak bisa memberinya pereda sakit,” katanya dengan suara bergetar.
“Namanya Mohammad, dan ia terus berkata, ‘Saya bisa melihat ayah saya, saya bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal padanya.’”
Israel secara rutin membenarkan serangannya yang mematikan terhadap fasilitas kesehatan di Gaza dengan alasan menargetkan Hamas, meskipun tidak pernah memberikan bukti atas klaim tersebut.
Namun laporan media, termasuk dari Al Jazeera, telah mendokumentasikan bukti penargetan tenaga medis dan rumah sakit oleh Israel selama perang yang telah menewaskan lebih dari 65.300 warga Palestina itu.
Pada hari Senin, Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan dua rumah sakit di Kota Gaza menghentikan layanan akibat eskalasi serangan darat Israel dan kerusakan akibat pemboman yang terus berlanjut, sementara tank-tank maju semakin jauh ke Kota Gaza.
Puluhan ribu warga Palestina di Kota Gaza terpaksa mengungsi, karena Israel bersumpah akan merebut kota itu, yang sebelumnya dihuni lebih dari satu juta orang sebelum serangan besar Israel dimulai beberapa minggu lalu.
Kelaparan juga meluas di Gaza karena Israel terus memblokade bantuan. Sedikitnya 440 orang telah meninggal karena kelaparan sejauh ini.
Kemenkes menambahkan bahwa Rumah Sakit Anak al-Rantissi rusak parah akibat serangan udara Israel beberapa hari lalu. Serangan Israel juga terjadi di sekitar Rumah Sakit Mata St John yang menyebabkan layanan di sana terhenti.
“Pendudukan secara sengaja dan sistematis menargetkan sistem kesehatan di wilayah Gaza sebagai bagian dari kebijakan genosida terhadap Jalur Gaza,” kata pernyataan itu.
“Tidak ada fasilitas atau rumah sakit yang memiliki jalur akses aman yang memungkinkan pasien dan korban luka mencapainya,” tambahnya.
Namun meski terus diserang, para dokter di Rumah Sakit al-Shifa menegaskan bahwa meninggalkan pasien bukanlah pilihan.






