SAKINAH

Geliat Tren ‘Intimate Wedding’ yang Menolak Riwuh

Personalization: Jiwa dari Intimate Wedding

Jika pernikahan besar ibarat konser orchestra, intimate wedding adalah sesi jazz improvisasi—penuh dengan personalisasi dan nuansa yang spontan.

Konsep “custom vow” atau janji nikah yang ditulis sendiri oleh pasangan hampir menjadi standar. Isinya adalah kisah cinta mereka, lelucon privat, dan janji-janjinya yang paling jujur, yang dibacakan di hadapan para saksi hidup mereka. Tidak ada yang dibuat-buat.

Hal ini merambah ke segala detail. Wedding favor bisa berupa benda-benda yang punya kenangan, seperti selai dengan rasa yang disukai pasangan atau buku kecil berisi puisi. Bahkan, musik yang dimainkan bisa berasal dari playlist pribadi mereka, bukan dari katalog lagu wedding biasa.

Fotografi dan videografi pun mengalami perubahan pendekatan. “Kami bukan lagi mengejar shot yang sempurna dan kaku. Kami memburu emosi. Air mata tawa sang ibu, pelukan kakek yang haru, canda tawa para sahabat. Dalam pernikahan intim, setiap tamu adalah pemain utama, bukan figuran. Jadi, setiap ekspresi mereka berharga,” papar Anton Wijaya, seorang fotografer pernikahan.

Penutup: Sebuah Pernyataan Sikap

Tren intimate wedding lebih dari sekadar mode sesaat. Ia adalah cerminan zeitgeist, jiwa zaman generasi milenial dan Gen-Z yang lebih mengutamakan pengalaman (experience) atas kepemilikan materi (ownership), yang lebih menghargai keaslian (authenticity) daripada kesan (impression).

Ini adalah pemberontakan yang sunyi terhadap tekanan sosial untuk tampil “wah”. Sebuah deklarasi bahwa kebahagiaan tidak diukur dari seberapa banyak yang kita pamerkan, tetapi dari seberapa dalam kita merasakannya.

Dalam diamnya acara yang intim, justru di situlah suara cinta dan komitmen bergema paling nyaring. Karena pada akhirnya, seperti kata pepatah lama yang menemukan relevansinya kembali: less is more. (***)

Muhibbullah Azfa Manik

Laman sebelumnya 1 2
BACA JUGA
Close
Back to top button