Genosida Gaza Membuat Banyak Orang Masuk Islam
Peneliti di Yaqeen Institute ini menjelaskan bahwa pelajaran terbesar di Gaza ini adalah tentang keimanan. Tentang bagaimana petunjuk Allah Swt. mampu meneguhkan hati manusia ketika seluruh sandaran dunia runtuh. Tentang bagaimana Al-Qur’an tetap menjadi cahaya bagi siapa saja yang mencarinya dengan ketulusan. Dan tentang bagaimana, bahkan di tengah salah satu tragedi kemanusiaan paling kelam pada zaman ini, cahaya petunjuk Allah Swt. terus menyinari hati manusia—baik di Gaza maupun di berbagai penjuru dunia.
Mualaf yang masuk Islam karena isu Palestina atau Gaza lainnya, Clarke Jones (nama samaran), yang dibesarkan dalam lingkungan Church of Christ, mengatakan kepada News Line: “Saya tidak akan mengatakan bahwa Palestina sendirilah yang membuat saya masuk Islam…. Tetapi Palestinalah yang membuat saya mengambil Al-Qur’an untuk pertama kalinya. Awalnya saya membacanya demi menambah pengetahuan dan sebagai bentuk solidaritas. Namun ketika saya membacanya, saya mendapati bahwa Al-Qur’an menjelaskan apa yang selama ini saya rasakan dan apa yang selama ini saya yakini.”
Mualaf lainnya, Jamie Rosario, juga menceritakan pengalamannya: “Saya terus menjaga salat lima waktu saya, dan saya merasakan kedamaian yang luar biasa…. Setelah mengalami perceraian, menjual rumah, dan kehilangan teman-teman yang saya miliki lima tahun lalu, hidup saya benar-benar seperti lembaran kosong. Al-Qur’an, Islam, dan komunitas yang saya temukan telah memberikan harapan dan optimisme baru kepada saya. Saya merasa sedang kembali menjadi diri saya yang memang sejak awal diciptakan untuk menjadi seperti ini.”
Mualaf Nefertari Moon menceritakan bahwa ia mulai membaca Al-Qur’an setelah menyaksikan ketabahan rakyat Palestina. Ia berkata: “Saya ingin mengetahui apa yang membuat orang-orang tetap memanggil Allah ketika kematian ada tepat di depan mata.” Setelah membaca Al-Qur’an beberapa waktu, ia akhirnya memeluk Islam.
Meski Israel mencoba melakukan propaganda hasbara di seluruh dunia, simpati kepada Gaza dan Palestina terus mengalir. Beberapa orang memutuskan memeluk Islam, sedangkan jutaan lainnya terus mendukung Palestina tanpa memedulikan agama yang mereka anut.
Agen-agen Israel di Indonesia, seperti Monic dan Abu Janda, gagal mendapatkan simpati dari masyarakat Islam Indonesia. Meski mereka melakukan segala upaya untuk mempromosikan ‘kebaikan’ Yahudi Israel, mereka kini mungkin menjadi manusia yang paling dibenci masyarakat Muslim Indonesia melebihi kaum Yahudi Zionis Israel sendiri. Wallahu ‘azizun hakim. []
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.






