OPINI

Kushner dan Rencana Gaza

Oleh: Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Universitas Khairun, Ternate.

Kunjungan Jared Kushner dan Nickolay Mladenov ke Israel pekan depan menandai babak baru diplomasi Amerika Serikat. Langkah ini dilakukan untuk merespons konflik berkepanjangan yang terjadi di Gaza.

Middle East Monitor (MEMO, 14 Agustus 2026) melaporkan bahwa ini merupakan kunjungan pertama Kushner sejak Januari. Ia dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mematangkan implementasi rencana AS di Gaza.

Kunjungan ini menghadapi hambatan fundamental dari peta jalan yang ditawarkan Dewan Perdamaian (Board of Peace). Skema tersebut bertolak belakang dengan sikap politik dalam negeri Israel yang keras.

Kehadiran Kushner bukan sekadar misi koordinasi biasa. Gedung Putih memberi sinyal mulai kehilangan kesabaran terhadap taktik mengulur waktu yang dimainkan Netanyahu.

Baca juga: Bahas Tahap Lanjutan Rencana Gaza, Menantu Trump dan Pejabat BOP Temui Netanyahu Pekan Depan

Rencana 15 poin yang disetujui Dewan Perdamaian menawarkan kompromi yang cukup realistis di atas kertas. Konsep pelucutan senjata berjalan paralel dengan penarikan bertahap pasukan Israel.

Pembentukan komite teknokratis Palestina dan pengerahan pasukan internasional menjadi formula standar mengakhiri konflik. Skenario penyimpanan senjata berat di bawah otoritas komite nasional juga telah diterima Hamas.

Sikap Hamas menunjukkan kelenturan posisi politik yang jarang terlihat sebelumnya. Namun, diplomasi internasional selalu berbenturan dengan realitas keras di lapangan.

Penolakan terang-terangan Netanyahu terhadap rencana tersebut menunjukkan adanya agenda politik terselubung. Baginya, isu keamanan dijadikan pembenaran atas motif politik domestiknya.

Menjelang potensi pemilu, Netanyahu menyadari bahwa konsesi terhadap Hamas akan dimanfaatkan oleh lawan politiknya. Ia memilih tampil sebagai figur pelindung keamanan yang tegas alih-alih menjadi negarawan.

Sikap ini menjadi tamparan bagi Dewan Perdamaian yang merancang peta jalan sejak 31 Juli. Peta jalan tersebut memandatkan pelucutan senjata dan penarikan pasukan untuk berjalan secara bersamaan.

Di sisi lain, Amerika Serikat menunjukkan sikap ambivalen dalam proses diplomasi ini. Pejabat AS mengklaim sepaham secara strategis, namun memaklumi keraguan pihak Israel.

1 2Laman berikutnya
Back to top button