Dunia Islam di Mata Syekh Said Ismagilov
Oleh: Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Universitas Khairun, Ternate.
Sosok Syekh Said Ismagilov (lahir 1978) adalah figur langka dalam peta kepemimpinan Islam kontemporer. Ia merupakan mantan Mufti Ukraina yang menukar jabatan keagamaan tertinggi dengan rompi antipeluru di garis depan Kharkiv.
Dalam wawancara eksklusif dengan Anastasiya Tido, jurnalis The Baltic Sentinel, pada 4 Mei 2026, Ismagilov mengisahkan kepemimpinannya atas unit pertahanan udara. Ia menyelamatkan korban luka di bawah tembakan sambil tetap memberikan bimbingan rohani di tengah gempuran perang.
Pengalamannya yang lintas batas—dari ruang kelas Islam di Moskow hingga parit pertempuran—memberinya perspektif unik. Ia membaca cara umat Islam memahami geopolitik, merespons propaganda, dan mendefinisikan kembali makna jihad di tengah dunia yang terpolarisasi.
Salah satu kontribusi paling berharga dari Ismagilov adalah pembacaan ulang terhadap konsep jihad. Baginya, jihad adalah usaha moral serta perjuangan untuk kebenaran pribadi, kebaikan, dan perlindungan terhadap kaum lemah.
Elemen bersenjata hanya diperbolehkan sebagai respons terhadap agresi dan penjajahan. Hal ini sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad saw ketika menghadapi serangan musuh.
Dalam kerangka itu, keterlibatan umat Muslim Ukraina melawan invasi Rusia bukanlah tindakan ekstremisme. Langkah tersebut merupakan pemenuhan kewajiban defensif yang sah secara teologis.
Ini adalah tafsir jihad yang kontekstual dan adaptif. Pemaknaan ini jauh dari narasi kekerasan absolut yang diklaim oleh kelompok-kelompok radikal.
Namun, pandangan Ismagilov tentang dunia Muslim global justru menunjukkan kekecewaan mendalam. Ia menyoroti negara-negara Global Selatan, termasuk mayoritas negara Muslim, yang cenderung bersimpati atau bersikap netral terhadap Rusia.
Narasi propaganda Rusia memanfaatkan trauma kolonial dengan menggambarkan diri sebagai pejuang melawan penjajah Barat. Narasi tersebut berhasil menembus kesadaran publik Muslim global.
Ismagilov mengakui keunggulan taktis Moskow dalam membangun saluran informasi sejak lama. Sementara itu, Ukraina tidak memiliki kapasitas media yang serupa.
Ini adalah pengakuan pahit bahwa perang informasi sering dimenangkan oleh pihak yang paham psikologi audiens. Kemenangan kerap diraih bukan oleh mereka yang memegang kebenaran objektif.
Satu hal yang lebih mengganggu baginya adalah temuan tentang para tawanan perang Muslim dari pihak Rusia. Para tawanan dari Tatar, Dagestan, dan wilayah lain mengaku bertempur semata-mata demi uang tanpa ideologi atau penyesalan.
Temuan ini membongkar mitos bahwa konflik Ukraina-Rusia adalah perang peradaban atau jihad agama. Sebaliknya, ini adalah perang ekonomi yang membajak tubuh-tubuh miskin dari wilayah pinggiran kekaisaran.
Ismagilov melihat ironi bahwa pihak yang terjebak dalam propaganda Rusia adalah keturunan bangsa-bangsa yang pernah dijajah kekaisaran tersebut. Kegagalan membangun kesadaran sejarah di kalangan Muslim pasca-Soviet menjadi salah satu akar keterpecahan politik dunia Islam saat ini.
Sebagai tambahan, Ismagilov menawarkan kritik tajam terhadap ISIS dan kelompok radikal lainnya. Ia menegaskan bahwa ISIS bukanlah gerakan agama yang ideologis, melainkan kelompok bandit bersenjata.






