RESONANSI

Global Sumud Flotilla: Refleksi Kebenaran Musa Vs Strategi Zalim Firaun

Tetapi dipuncak kezaliman itu, mari kita lihat bagaimana Al-Qur’an mengabarkan akhir tragis Firaun ketika ia menyesali keangkuhannya di saat ajal menjemput:

“Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang laut, lalu Firaun dan bala tentaranya mengikuti mereka untuk menzalimi dan menindas. Hingga ketika Firaun hampir tenggelam, ia berkata: Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Yunus 10:90)

Penyesalan Firaun datang terlambat. Demikian pula, sejarah menunjukkan bahwa setiap kekuasaan zalim, sekuat apapun, akhirnya runtuh.

Rasulullah Saw pernah bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya—dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Hadis ini menjadi pedoman bagi umat Islam dan seluruh insan kemanusiaan untuk tidak diam melihat penindasan. Flottila kemanusiaan adalah wujud nyata mengubah kemungkaran dengan “tangan”-dengan aksi langsung membantu mereka yang dizalimi. Sedangkan dukungan masyarakat dunia, doa, dan suara solidaritas adalah bentuk melawan dengan lisan dan hati.

Ibrah dan Pelajaran untuk Dunia Islam

Refleksi dari kisah ini memberikan pelajaran penting:

Kezaliman adalah sistemik. Firaun memiliki pasukan, penasihat, dan propaganda. Begitu pula kekuatan zalim modern: mereka beroperasi melalui jaringan politik, ekonomi, dan media. Melawannya butuh solidaritas global yang juga sistemik.

Sumud adalah kunci. Nabi Musa dan Bani Israel menang bukan karena kekuatan militer, melainkan karena keteguhan iman. Begitu juga rakyat Palestina—kekuatan mereka adalah moral, spiritual, dan keberanian untuk tetap berdiri.

Akhir kezaliman pasti. Firaun akhirnya tenggelam, menjadi simbol bahwa kezaliman tidak pernah abadi. Blokade, serangan, dan penindasan hanya mempercepat runtuhnya legitimasi moral penguasa zalim.

Solidaritas adalah kewajiban. Umat Islam tidak boleh diam. Flotila hanyalah simbol, tetapi ia menggugah kesadaran bahwa setiap orang punya peran dalam perjuangan kemanusiaan dan keadilan.

Penutup

Global Sumud Flotila bukan sekadar kapal yang berlayar menuju Gaza. Ia adalah Musa kecil di hadapan Firaun modern. Ia membawa pesan bahwa kebenaran, meski terlihat lemah, mampu mengguncang singgasana kezaliman sekuat apapun adanya.

Al-Qur’an dan hadis telah memberi kita panduan. Jangan menjadi “pembantu Firaun” yang melanggengkan kezaliman, tetapi jadilah pengikut Musa yang setia kepada kebenaran. Sejarah Musa menegaskan bahwa kemenangan bukan milik siapa yang memiliki senjata terkuat, melainkan siapa yang berdiri teguh di sisi kebenaran. Wallahu a’lam. []

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button