NUIM HIDAYAT

Hancurnya Peradaban Barat (Amerika dan Israel)

  1. Pesan spiritual dan sosial:

Umat manusia tidak boleh tertipu oleh kekuasaan atau kelanggengan. Semua berada dalam genggaman kehendak Allah. Kekuatan, kejayaan, bahkan eksistensi suatu bangsa atau peradaban akan berakhir ketika telah tiba “ajal” yang telah ditentukan Allah.

  1. Nilai dakwah dan kesabaran Rasul:

Sayyid Quthb menekankan bahwa ayat ini juga menghibur Rasulullah ﷺ agar bersabar menghadapi kaum yang menentangnya. Tugas beliau hanyalah menyampaikan risalah — bukan mempercepat turunnya azab atau menentukan waktu kemenangan.

Kemenangan dan azab datang sesuai dengan iradah (kehendak) Allah, bukan sesuai dengan keinginan manusia.

Sayyid Quthb menyatakan,” Ini adalah pernyataan tentang hakikat terbesar dalam wujud ini, yakni hakikat kekuasaan Ilahi yang mutlak dan ketidakberdayaan seluruh makhluk selain Allah. Nabi sendiri tidak mampu memberi manfaat atau menolak mudarat bagi dirinya, maka bagaimana mungkin beliau mampu melakukannya bagi orang lain?

Lalu, bagaimana pula kaum musyrik dapat menuntut beliau agar mempercepat turunnya azab atau menundanya?! Segala sesuatu terjadi dengan ketentuan (qadar). Setiap umat memiliki ajalnya. Bila ajal itu datang, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak dapat memajukannya. Itulah sunnatullah atas umat-umat, yang tidak berubah dan tidak berganti.”

Peradaban yang telah membusuk nilai-nilainya, tidak dapat lagi diteladani oleh bangsa-bangsa lain. Maka saatnyalah umat Islam menunjukkan nilai-nilai yang hebat dari Al-Qur’an untuk dipersembahkan kepada dunia. Saatnya umat Islam memimpin dunia, karena peradaban Barat telah terbukti gagal membangun manusia. Peradaban Barat telah memberi teladan kepada manusia.

Al-Qur’an menjelaskan,

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali Imran 140)

Pada ayat ini, Sayyid Quthb dalam “Tafsir Fi Zhilalil Quran” menjelaskan, “Itulah sunnatullah dalam kehidupan. Hari-hari terus berganti; kemenangan tidak kekal, kekalahan pun tidak abadi. Tidak ada kekuasaan yang akan tetap selamanya di tangan satu umat. Tangan Allah-lah yang menggilir hari-hari itu di antara manusia, agar setiap umat diuji agar Allah menampakkan siapa yang benar-benar beriman, agar Allah memilih di antara kaum mukminin para syuhada, dan agar Allah mendidik umat beriman melalui ujian dan cobaan supaya mereka menjadi umat yang jujur dan sabar. Maka, kekalahan di jalan Allah bukanlah keburukan mutlak, sebagaimana kemenangan bukanlah kebaikan mutlak. Semuanya adalah bagian dari pendidikan ilahi, ujian, dan pemurnian jiwa. Allah tidak mencintai orang-orang zalim — yaitu mereka yang keluar dari jalan keadilan, baik di medan perang maupun dalam kehidupan.“

Pesan Utama Sayyid Quthb dalam ayat ini adalah:

  1. Sejarah dan kemenangan adalah milik Allah. Umat manusia hanya menjalani sunnatullah. Kemenangan bukan karena jumlah atau kekuatan, tetapi karena kebenaran dan keteguhan iman.
  2. Kekalahan bisa menjadi rahmat. Melalui kekalahan, Allah mendidik dan membersihkan umat dari kelemahan, kemunafikan, dan cinta dunia.
  3. Syahid adalah kemuliaan. Allah “mengambil” sebagian kaum mukminin sebagai syuhada — suatu bentuk pemuliaan, bukan kekalahan.
  4. Ujian adalah cara Allah menyiapkan generasi pejuang sejati. Hanya mereka yang teruji dengan sabar dan iman yang layak memikul amanah risalah.

Maka di sini kita melihat, dengan membusuknya nilai-nilai peradaban Barat ini, maka saatnyalah umat Islam ini tampil memimpin dunia. Tampil untuk membangun peradaban dengan landasan Al-Qur’an yang mulia.

Dalam ayat berikutnya, Al-Qur’an menyatakan,

وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ

“Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir“

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.“ (QS Ali Imran 141-142)

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button