SEHAT-BUGAR

Hati-Hati, Penggunaan Antiseptik Mulut Sembarangan Bisa Rusak Mikrobioma

JAKARTA (Suaraislam.id) — Mulut merupakan tempat bagi keseimbangan mikroba yang rumit. Jika ekosistem bakteri ini terganggu, hal tersebut dapat berdampak buruk pada kesehatan tubuh berdasarkan sejumlah penelitian.

Dalam siaran Channel News Asia pada Sabtu (12/9/2026), para pengguna media sosial ramai membahas dampak obat kumur. Penggunaan bahan antiseptik ini secara teratur disebut-sebut meningkatkan risiko diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, hingga masalah aliran darah ke otak.

Namun, Profesor Periodontik dan Kedokteran Mulut di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Michigan, Dr. Purnima Kumar, menilai pemakaian obat kumur bebas sesekali tidak membahayakan. Penggunaan sekali seminggu atau sekali sebulan kemungkinan besar tidak merusak kesehatan mulut atau tubuh secara umum.

“Tetapi jika diulang beberapa kali sehari selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun, ada kemungkinan timbul efek yang merusak,” ujar Kumar.

Kategori Obat Kumur dan Dampaknya

Profesor Madya Periodontik di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Maryland, Dr. Vivek Thumbigere-Math, menjelaskan obat kumur terbagi menjadi dua kategori. Kategori pertama adalah obat kumur terapeutik yang mengandung bahan aktif pembunuh bakteri untuk mengatasi bau mulut, penyakit gusi, dan kerusakan gigi. Kategori kedua adalah obat kumur kosmetik yang hanya menutupi bau mulut sementara tanpa bahan aktif pembunuh kuman.

Kedua jenis obat kumur tersebut pada dasarnya berfungsi menghilangkan bakteri berbahaya penyebab masalah gigi. Kendati demikian, produk ini berisiko ikut membasmi bakteri bermanfaat yang bertugas melindungi ekosistem mulut.

Beberapa penelitian terbaru menemukan bahwa obat kumur terapeutik mengandung klorheksidin dapat mengubah mikrobioma mulut dan mengganggu fungsi normalnya. Di Serikat Amerika (United States), produk berbahan antiseptik keras ini hanya bisa diperoleh melalui resep dokter.

Uji coba skala kecil pada 2020 menunjukkan 36 orang dewasa sehat di Inggris berkumur dua kali sehari selama tujuh hari dengan plasebo dan obat kumur klorheksidin. Hasilnya, obat kumur antiseptik tersebut memicu perubahan besar pada mikrobioma saliva, meningkatkan kadar asam di mulut yang memicu gigi berlubang, serta menurunkan populasi bakteri penunjang tekanan darah sehat.

Risiko Jangka Panjang dan Rekomendasi Ahli

Periodontis asal New York City, Dr. Richard Nejat, menambahkan belum ada bukti jelas bahwa merek obat kumur populer mengubah mikrobioma sedahsyat klorheksidin. Produk-produk tersebut umumnya mengandung antiseptik seperti setilpiridinium klorida, minyak esensial, yodium, atau hidrogen peroksida.

Meskipun demikian, Nejat menyarankan masyarakat menghindari penggunaan obat kumur jangka panjang kecuali untuk terapi masalah gigi tertentu. Penggunaan tanpa indikasi medis yang jelas berisiko menimbulkan efek samping merugikan.

Sementara itu, Kumar menyebutkan bahwa gangguan mikrobioma mulut dapat memengaruhi kesehatan kardiovaskular. Bakteri mulut berperan mengubah nitrat dari makanan menjadi oksida nitrat yang merelaksasi pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah.

Sejumlah penelitian menemukan hubungan penggunaan obat kumur teratur dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 dan hipertensi. Kendati begitu, penelitian tersebut masih memiliki keterbatasan dan belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara pasti.

1 2Laman berikutnya
Back to top button