HNW Soroti Pentingnya Revitalisasi OKI untuk Penyelamatan Al-Aqsha
Jakarta (SI Online) – Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menekankan pentingnya revitalisasi Organisasi Kerjasama Islam (OKI) sebagai kunci memperkuat solidaritas dunia Islam agar berkontribusi hadirkan perdamaian, dan khususnya wujudkan cita-cita awal pendiriannya yaitu pembelaan dan penyelamatan Masjid Al-Aqsha dan kemerdekaan Palestina.
Pria yang akrab disapa HNW itu menyebut bahwa keberadaan OKI sejak awal memang tidak bisa dipisahkan dari perjuangan membela Al-Aqsha dan memerdekakan Palestina.
Menurutnya, latar belakang berdirinya OKI pada 1969 memang merupakan respons pimpinan negara-negara berpenduduk Muslim atas pembakaran Masjid Al-Aqsha oleh ekstremis zionis Yahudi, sehingga isu Palestina dan Jerusalem menjadi fondasi utama organisasi tersebut. Maka sejak dari awal diputuskanlah bahwa Jerusalem adalah kantor pusat Sekjend OKI yang akan menjadi Ibukota Palestina merdeka dan tempat di mana masjid Al Aqsha berada. Karena itu, revitalisasi OKI harusnya tetap merujuk/kembali pada tujuan awal pendiriannya.
“OKI harusnya tidak dilepaskan dari Al-Aqsha dan kemerdekaan Palestina. Agar organisas, internasional terbesar kedua sesudah PBB yang juga disebut sebagai United Nations of Moslem Countries ini tidak kehilangan relevansinya,” ujar HNW dalam keterangannya, Senin (20/4/2026).
Ia mengakui, meskipun dalam perjalanannya OKI menghadapi berbagai dinamika, tantangan dan bahkan konflik internal antarnegara anggota, tetapi organisasi tersebut memiliki potensi besar untuk kembali berperan secara efektif.
HNW mencontohkan sejumlah dinamika global yang menunjukkan keberhasilan OKI hadirkan resolusi PBB tolak penodaan Agama, bahkan Resolusi PBB memerangi Islamophobia pada tahun 2022. Juga fakta belakangan bahwa negara-negara anggota OKI memiliki kemampuan militer yg dipentingkan serta solidaritas untuk membuat aliansi militer serta kapasitas unggul secara geopolitik, ekonomi dan kekuatan strategis yang dipentingkan seperti keberadaan sebagian negara OKI di lokasi-lokasi sangat strategis seperti Selat Hormuz, Bab al Mandab dan Selat Malaka.
Karena itu, ia menyoroti posisi Indonesia yang dinilai sangat strategis dalam mendorong revitalisasi OKI. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia sekaligus salah satu pendiri OKI, yang diterima sangat baik di negara-negara barat sebagai negara Demokratis dan Moderat, Indonesia disebut banyak pihak sebagai memiliki legitimasi kuat untuk mengambil peran kepemimpinan dan revitalisasi OKI.
Apalagi, lanjut HNW, bahwa kini (tahun 2024) akhirnya Indonesia sudah menandatangani piagam pendirian OKI, organisasi internasional yang Indonesia termasuk ikut mendirikan pada tahunn1969.Ia memahami mengapa akhirnya Indonesia menandatangani Piagam Pendirian OKI, karena memang 3 alasan yang sering disebut sudah tidak relevan. Mengingat sejak dari awal keanggotaan OKI tidak mensyaratkan negara berbasis Islam, melainkan sudah terbuka bagi negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Maka ada 8 negara Anggota OKI mayoritas non Muslim yang sudah menandatangani Piagam Pendirian OKI seperti Togo, Suriname, Nigeria dan Pantai Gading.
“Maka sesudah penandatanganan itu, Indonesia seharusnya mengambil peran lebih aktif, agar bisa berkontribusi lebih besar dalam menentukan arah organisasi, mewujudkan cita-cita pendiriannya yang juga sejalan dengan Konstitusi Indonesia,” kata dia.
Maka menurut HNW, diantara langkah penting yang perlu dilakukan dalam rangka Revitalisasi OKI juga pentingnya menghidupkan kembali Deklarasi Jakarta sebagai hasil Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa OKI yang pernah digelar di Jakarta Indonesia pada tahun 2016. Deklarasi tersebut berisi komitmen konkret negara-negara anggota dalam menyelamatkan Masjid al Aqsha dan mendukung Palestina merdeka, baik melalui jalur politik, ekonomi, diplomasi, maupun hukum internasional.
Ia meyakini, jika komitmen dalam deklarasi tersebut dijalankan oleh negara-negara OKI secara konsisten, maka OKI dapat menjadi kekuatan global yang efektif dalam memajukan negara-negara anggotanya dan ikut memperjuangkan perdamaian dunia.
“Banyaknya tantangan sebagiamana dialami dan disampaikan oleh para pakar, penting dijadikan sebagai diagnosa untuk menemukan resep mujarab. Sehingga Revitalisasi OKI bisa dilakukan, dan pembebasan Al-Aqsha yang kini makin dikuasai zionis Israel, juga bukan hal yang mustahil dilakukan kembali, selama ada keseriusan dan kepemimpinan yang kuat, dan Indonesia bisa memberikan kontribusinya,” pungkasnya. []






