Ibadah Haji, Momentum Penyatuan Umat Islam
Depok (Suaraislam.id)—Ibadah haji yang diikuti jutaan kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia menuju satu titik merupakan bukti nyata bahwa umat Islam mampu bersatu melampaui batas geografis.
“Jutaan kaum Muslimin dari seluruh penjuru dunia bergerak menuju satu titik, ibadah haji bukan sekadar ritual personal, melainkan bukti nyata umat Islam mampu bersatu melampaui batas geografis,” tegas Konselor Keluarga dan Pengasuh Rumah Qur’an As-Salam, Ustadzah Reni Ummu Hamzah dalam Kajian Muslimah Tematik, “Satu Kiblat Satu Umat, Pelajaran dari Tanah Suci”, di Depok, Ahad (17/5/2026) lalu.
Ustadzah Reni Ummu Hamzah menegaskan bahwa ketika haji, seluruh identitas duniawi kaum muslimin seperti status, jabatan, ras, dan kebanggaan nasional dilepaskan.
“Begitu pula dengan pakaian yang dikenakan adalah pakaian yang satu, yaitu pakaian ihram tanpa memandang kelas sosial, juga melantunkan seruan yang sama yaitu talbiyah, labbaikallahumma labbaik di padang Arafah dan saat tawaf,” bebernya.
Namun, ia sangat menyayangkan realitas pahit di luar tanah suci setelah musim haji usai karena kekuatan kolektif umat Islam menguap begitu saja akibat digantikan oleh sekat-sekat imajiner serta konflik kepentingan.
“Jika kita rasakan di dalam tanah suci loyalitas utama pada akidah dan Sang Pencipta, batas wilayah yang menyatu di satu titik tanpa sekat, juga hukum yang berlaku ketundukan penuh pada syariat,” ungkapnya terkait kontradiksi kondisi umat saat ini.
“Sedangkan keadaan di luar tanah suci loyalitas utama kembali kepada bendera dan kepentingan nasional, batas wilayah tersekat ratusan garis perbatasan imajiner, hukum yang berlaku mengadopsi sistem dan hukum asing,” lanjutnya secara lugas.
Menurutnya, kondisi kaum muslimin saat ini digambarkan sebagaimana hadis riwayat Abu Dawud, saat Rasulullah saw. bersabda bahwa umat Islam akan dikepung dari berbagai sisi.
Meskipun jumlahnya banyak, kaum muslimin saat ini dinilai tidak memiliki kekuatan dan kehilangan wibawa sehingga musuh tidak lagi takut, serta dijangkiti penyakit al-wahn (cinta dunia berlebihan dan takut mati) yang menjadi penyebab utama kehancuran.
“Penyebab semua hal yang terkait kondisi umat Islam saat ini adalah tidak adanya ikatan akidah yang menyatukan kaum Muslimin,” sebutnya dengan tegas.
“Dalam sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, adanya batas negara mengalahkan ikatan iman dengan nama nasionalisme yang memotong ikatan persaudaraan sejati dan memaksa umat lebih loyal pada batas teritorial penjajah daripada ikatan akidah,” kecamnya.
Ia menekankan bahwa kehancuran umat hanya bisa dihentikan jika kaum muslimin kembali pada sistem yang sahih.
“Hanya dengan sistem Islam, keimanan, ibadah, dan aturan Allah Swt. yang dapat menyatukan kaum muslimin, bukan dalam sistem buatan manusia yang akan mencerai-beraikan kaum Muslimin,” pungkasnya.[]
Ayyuhanna Widowati






