I‘jaz Al-Qur’an: Keajaiban Bahasa yang Menantang Akal dan Pena
Oleh: Muhammad Ikhwan Rasyada*
Saat membaca Al-Qur’an, kita biasanya fokus pada apa yang disampaikan: nilai moral, kisah para nabi, dan petunjuk hidup. Namun ada sisi lain yang sering luput dari perhatian, bagaimana pesan itu disampaikan.
Setiap kata, susunan kalimat, irama, dan keseimbangan lafaz-makna dalam Al-Qur’an membentuk satu kesatuan yang sangat khas. Dari sinilah lahir konsep i‘jaz al-Qur’an, yaitu keajaiban dan ketidaktertandingan Al-Qur’an dari sisi bahasanya.
Jika kita mengakui bahwa Al-Qur’an memiliki kekuatan bahasa yang luar biasa, muncul pertanyaan berikutnya: apa yang membuatnya begitu unik? Bagaimana ia mampu “menantang akal dan pena” manusia? Dan dalam era modern, ketika akses teks begitu mudah namun pemahaman sering terpecah, bagaimana kita bisa menangkap sisi keajaiban ini dengan lebih utuh?
Pengertian dan Ruang Lingkup I‘jāz Bahasa dalam Al-Qur’an
Secara bahasa, i‘jāz berasal dari akar kata Arab jaza yang berarti “tidak mampu”. Dalam konteks Al-Qur’an, istilah ini menunjukkan ketidakmampuan manusia untuk menciptakan ucapan yang setara dengan kualitas bahasa Al-Qur’an.
Para pakar balaghah klasik seperti ‘Abd al-Qahir al-Jurjani dalam Dala’il al-I‘jaz menegaskan bahwa keunikan Al-Qur’an tidak hanya terletak pada makna yang dikandungnya, tetapi juga pada keindahan struktur serta hubungan antara lafaz dan makna.
Bahasa yang Menantang Akal dan Pena
- Bentuk Sastra yang Sulit Diklasifikasikan
Pada masa pra-Islam, karya sastra Arab umumnya terbagi menjadi dua: puisi dengan pattern metrum-rima yang ketat, dan prosa bebas tanpa aturan musikal. Al-Qur’an hadir dengan format yang tidak bisa digolongkan sebagai puisi sepenuhnya, namun juga tidak bisa disebut prosa biasa, melainkan sebuah perpaduan yang unik, sehingga banyak peneliti menyebutnya “neither prose nor poetry, but a unique fusion” (tidak lalu puisi, tidak kemudian prosa). Ia tampil sebagai bentuk baru yang memadukan keindahan ritmis dengan ketegasan makna, sebuah gaya yang belum pernah ada sebelumnya.
Karena bentuknya tidak mengikuti pola sastra yang dikenal masyarakat Arab saat itu, para ahli bahasa dan penyair yang sangat terlatih pun kesulitan meniru atau menandinginya. Inilah salah satu bukti kuat i‘jaz bahasa Al-Qur’an.
- Pilihan Kata dan Struktur Kalimat yang Tidak Lazim, namun Tepat
Kajian linguistik modern menemukan bahwa Al-Qur’an menggunakan kosakata familiar bagi bangsa Arab, tetapi menyusunnya dalam pola yang tidak biasa (bahkan baru) untuk zaman itu. Mulai dari perpindahan sudut pandang secara tiba-tiba, perubahan posisi subjek-objek, penggunaan huruf tertentu untuk efek bunyi, sampai pengurangan kata yang justru memperdalam makna.
Keanehan yang indah ini membuat pembacanya berpikir: manusia bisa merangkai kata, tetapi bagaimana mungkin susunan kata yang sederhana bisa melahirkan makna berlapis-lapis sekaligus tetap indah secara estetik? Di sinilah “akal dan pena” manusia seolah mencapai batasnya.
- Tantangan Terbuka untuk Menandingi
Salah satu aspek paling menarik dari i‘jaz adalah adanya tantangan langsung dalam Al-Qur’an: jika manusia meragukan keasliannya, mereka dipersilakan untuk membuat satu surah saja yang sepadan dengannya (QS. 2:23). Tantangan ini bukan kiasan, bukan pula rahasia tertutup, ia bersifat publik dan terbuka.
Hingga kini, tidak ada satu pun karya yang diakui sepadan dengan Al-Qur’an, baik dari sisi balaghah, struktur, makna, maupun kekuatan pesannya. Fakta ini semakin menguatkan bahwa bahasa Al-Qur’an memiliki kualitas yang melampaui kemampuan manusia.






