KHOTBAHNASIONAL

Ini Isi Khotbah Idulfitri 1443 H Kiai Cholil Nafis di JIS

Implementasi kefitrahan kita tidak cukup hanya menjadi saleh secara individu, tetapi juga harus saleh secara sosial. Artinya, seseorang akan lebih baik jika ia banyak menebarkan kebaikan kepada orang banyak. Sebab, hidup ini akan dituntut oleh Allah SWT dengan dua hal, yaitu apa karya yang dipersembahkan dan jasanya yang ditinggalkan (ma qaddamu wa atsarahum). Hidup ini hanya melewati waktu yang akan dicatat apakah tindakannya menjadi torehan sejarah yang monumental atau hal sia-sia yang dibuang.

Untuk menjadi orang yang berguna kepada orang banyak, kita harus melepaskan sikap individualisme dan harus punya kepekaan sosial. Rasulullah saw. menggambarkan solidaritas manusia beriman bagaikan satu fisik (kaljasadi al-wahid) yang diimplementasikan dengan saling merasakan. Kemudian, diaplikasikan dengan saling menguatkan yang diilustrasikan bagaikan satu bangunan (kalbunyani al-wahid). Artinya, implementasi takwa yang kita raih melalui traning Ramadhan harus diimplementasi pada sebelas bulan berikutnya dengan merasakan penderitaan saudara-saudara kita dan saling menguatkan dengan mengorbankan segala kemampuannya untuk kepentingan masyarakat.

Dalam konteks kebangsaan, ketakwaan yang kita rayakan di hari yang fitri ini harus merefleksikan rasa apa yang dirasakan oleh orang-orang yang kurang beruntung dan menguatkan mereka agar bangkit dan maju. Dalam konteks bangsa Indonesia yang masih banyak yang berada pada tingkat kemiskinan maka patut kita memberi perhatian dan bantuan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, penduduk miskin di Indonesia per September 2021 mencapai 26,5 juta orang atau 9,71 persen. Bahkan menurut prediksi Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS), tingkat kemiskinan Indonesia pada 2022 berpotensi melonjak menjadi 10,81 persen atau setara 29,3 juta penduduk. Artinya, kefitrahan kita harus tergugugah untuk mengentaskan kemiskinan, baik dilakukan secara individu seperti zakat, infak, dan sadekah atau secara kolektif melalui kebijakan negara yang berpihak kepada kaun miskin dan dhu’afa.

Di sinilah kita wajib mengimplemesikan fitrah kita dalam bingkai ukhuwah. Kiranya patut kita merevitalisasi konsep “trilogi ukhuwah” yang awalnya dikenalkan oleh tokoh Nahdlatul Ulama (NU), KH Ahmad Shiddiq (1926-1991). Konsep trilogi ukhuwah adalah menyatukan antara ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan dalam ikatan kebangsaan) dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama umat manusia).

Ukhuwah Islamiyah, adalah persaudaraan sesama pemeluk agama Islam, baik dalam bingkai kenegaraan atau bingkai keumatan. Inilah modal umat Islam dalam melakukan interaksi sosial sesama muslim. Ukhuwah wathaniyah adalah persaudaraan untuk membangun persatuan antar anak bangsa dalam kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Inilah modal dasar untuk melakukan pergaulan sosial dan dialog dengan pelbagai komponen bangsa Indonesia yang majmuk, tentu saja tidak terbatas pada satu agama semata. Sementara, ukhuwah basyariyah adalah persaudaraan yang paling mendasar sebagai manusia yang lahir dari bapak dan ibu yang sama, yaitu Adam dan Hawa. Ini prinsip dan landasan untuk membangun persaudaraan manakala ukhuwah Islamiyah atau ukhuwah wathaniyah tak lagi mengikat dengan kuat.

Allahu Akbar 3X Walillahi al Hamdu
Kaum muslimin wal muslimat rahimakumullah

Pada hari kemenangan kita dalam mengikat hawa nafsu untuk mencapai ketakwaan melalui ibadah puasa, marilah kita tunjukkan indikator keberhasilan dalam meraih ketakwaan. Kita tunjukkan kesejatian diri yang “fitri” yang senantiasa menebarkan cinta kasih, persaudaraan, kebersamaan, dan mampu memaafkan orang lain. Fitrah yang sesungguhnya adalah ketika taqwanya bertambah, berarti peran serta kemanusiaan lebih baik, amal salehnya meningkat, baik kesalehan individu maupun kasalehan sosial.

Jadi, kembali ke fitrah berarti kembali mendengarkan suara hati yang paling dalam yang sudah kita jernihkan dengan berpuasa di bulan Ramadhan. Bersikap fitrah adalah berorientasi pada pemenangan “ruh ilahi” atas tanah “lumpur” bumi. Semoga Allah SWT menuntun dan membimbing kita untuk selalu menjaga jiwa kita agar tetap bertakwa dan berjalan pada fitrahnya. Amin. []

red: farah abdillah

Laman sebelumnya 1 2 3 4

Artikel Terkait

Back to top button