RESONANSI

Islam dan Tugas Menyembuhkan Dunia

Akar Masalah: Jiwa yang Sakit

Lalu, di mana sumber problematika sosial dan sains kita? Banyak ulama menjelaskan, semuanya bermula dari hati manusia. Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’i menyebut enam akar penyakit manusia: kerakusan, kemewahan, kekejaman, egoisme, kesombongan, dan keras kepala. Al-Ghazali menyebut empat: harapan panjang, tergesa-gesa, dengki, dan sombong. Sementara Syaikh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi menegaskan satu sebab paling dalam: keterikatan hati kepada dunia.

Semua itu bersumber dari jiwa yang tidak sehat. Bila hati kotor, pikiran pun gelap; dan dari pikiran gelap lahir perilaku yang menimbulkan kerusakan sosial. Maka, masalah sosial sejatinya bukan sekadar masalah ekonomi, politik, atau struktur sosial—melainkan masalah moral dan spiritual.

Islam memandang manusia sebagai sumber sekaligus solusi dari masalah sosial. Jika hati manusia diperbaiki, masyarakat pun ikut sembuh. Dengan begitu, kemajuan peradaban tidak hanya berwujud fisik, tetapi juga bermakna spiritual. Ia bukan sekadar kemajuan semu yang gemerlap di luar, tetapi rapuh di dalam.

Peran Islam: Menyembuhkan dari Dalam

Lalu, siapa yang berperan menyembuhkan penyakit sosial ini? Islam sendiri telah menyediakan resepnya melalui tiga pilar utama: akidah, syariah, dan akhlak. Tiga aspek ini tidak bisa dipisahkan. Akidah membangun keyakinan dan arah hidup; syariah mengatur perilaku lahiriah; dan akhlak menata batin agar ikhlas.

Al-Buthi mengingatkan bahwa amal lahiriah tidak akan diterima di sisi Allah tanpa keikhlasan hati. Artinya, hukum, ibadah, dan aktivitas sosial apa pun hanya bermakna jika bersumber dari jiwa yang bersih. Dengan kata lain, penegakan syariah tanpa spiritualitas akan kering, sementara spiritualitas tanpa syariah akan kabur dan tidak membumi.

Sayyid Quthb menyebut Islam sebagai manhaj ilahi—pedoman Ilahi untuk kehidupan manusia yang dijalankan dengan usaha manusia sendiri, sesuai kapasitas dan realitas zamannya. Maka, solusi Islam terhadap problem sosial tidak bisa datang secara instan. Ia menuntut kesungguhan, atau dalam bahasa Al-Buthi, jihad.

Namun jihad di sini bukan semata perang fisik, melainkan perjuangan melawan hawa nafsu dan keburukan diri. Rasulullah Saw. bahkan menyebut perjuangan menundukkan hawa nafsu sebagai “jihad besar”. Sebab di sanalah semua perubahan bermula: dari dalam diri manusia.

Ulama dan Tanggung Jawab Moral

Dalam konteks inilah peran ulama dan tokoh Islam menjadi sangat penting. Mereka adalah “dokter jiwa” masyarakat. Melalui ceramah, pengajaran, dan keteladanan, para ulama membimbing umat mengenali akar penyakit sosial—rakus, iri, cinta dunia—seraya mengajarkan obatnya: zuhud, sabar, dan cinta kebenaran.

Pendekatan mereka tentu beragam. Ada yang lembut dan persuasif, ada yang tegas dan konfrontatif. Ada yang menempuh jalan dakwah kultural, ada pula yang memilih jalur struktural melalui politik. Perbedaan ini sah saja selama berlandaskan iman dan kejujuran, bukan ambisi pribadi. Sebab, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad Saw., jalan kebenaran tidak mengenal kompromi dengan kebatilan.

Namun di sinilah ujian umat modern: di tengah derasnya arus informasi, banyak yang lebih suka ikut-ikutan tanpa berpikir. Taklid buta terhadap tokoh, partai, atau ideologi apa pun berpotensi menyesatkan bila tak diimbangi nalar kritis. Islam justru mengajarkan keseimbangan antara iman dan akal, antara ketaatan dan tanggung jawab intelektual.

Sayangnya, sebagian kalangan yang gagal memahami keseimbangan ini justru tergelincir ke arah ekstrem lain: menilai sebagian ajaran Islam sudah “tidak relevan” dengan zaman. Dari sinilah benih sekularisme tumbuh—pemisahan antara agama dan kehidupan sosial. Padahal, justru di sinilah letak keunikan Islam: ia hadir untuk menyatukan, bukan memisahkan; untuk menuntun, bukan mengurung.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button