Isra Mikraj dan Krisis Akhlak Republik
Jika shalat adalah simbol hubungan vertikal dengan Tuhan, maka keadilan sosial adalah bukti hubungan horizontal dengan manusia. Tak ada gunanya rajin sujud jika kita menutup mata pada kemiskinan struktural. Tak ada makna takbir jika kita membiarkan ketimpangan tumbuh tanpa perlawanan.
Isra Mikraj juga mengajarkan tentang persatuan. Dalam riwayat, Nabi memimpin shalat para nabi. Simbol persatuan lintas zaman. Pesan yang terasa relevan di negeri yang terbelah oleh politik identitas. Agama dipakai sebagai alat kampanye, ayat dijadikan senjata, perbedaan dipelihara demi elektabilitas.
Ini berbahaya. Ketika agama dipolitisasi, yang rusak bukan hanya demokrasi, tetapi juga iman itu sendiri. Isra Mikraj seharusnya mengingatkan: agama datang untuk menyatukan, bukan memecah. Untuk membebaskan, bukan menindas.
Kita perlu jujur mengakui: republik ini sedang mengalami krisis moral. Bukan krisis ideologi, bukan krisis konstitusi, tetapi krisis nurani. Banyak yang pintar, sedikit yang berintegritas. Banyak yang fasih bicara agama, sedikit yang benar-benar mempraktikkannya dalam keputusan nyata.
Peringatan Isra Mikraj mestinya menjadi momen nasional untuk bertanya: apakah shalat kita sudah melahirkan kejujuran? Apakah iman kita sudah menghasilkan keberpihakan pada yang lemah? Apakah agama masih menjadi kompas, atau sekadar atribut?
Jika tidak ada perubahan sikap setelah peringatan ini, maka Isra Mikraj tinggal cerita indah yang kehilangan daya dobraknya. Padahal sejatinya, peristiwa itu adalah revolusi senyap: mengubah manusia dari dalam, agar dunia di luar ikut berubah.
Mungkin inilah tantangan terbesar kita hari ini: mengembalikan agama ke fungsi aslinya. Bukan sebagai hiasan politik, bukan sebagai identitas eksklusif, tetapi sebagai sumber keberanian moral. Karena bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang langka adalah orang jujur.
Dan di situlah Isra Mikraj kembali relevan: mengingatkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari sujud yang jujur. []
*Dosen Universitas Bung Hatta, Padang, Sumbar.






