Jalan Buntu 15 Poin Damai Trump
Dalam situasi seperti ini, bahkan mediator sekaliber Pakistan pun menghadapi tugas yang hampir mustahil. Mantan Duta Besar Pakistan untuk PBB, Masood Khan, mengakui bahwa Iran “mencurigai proses diplomatik dapat menjadi kedok bagi serangan darat di sepanjang garis pantainya”. Kesenjangan kepercayaan ini tidak akan terjembatani hanya dengan dokumen 15 poin, tetapi membutuhkan perubahan perilaku nyata yang hingga kini belum terlihat dari pihak Amerika.
Setitik Harapan dari Islamabad
Di tengah suramnya prospek perdamaian, setidaknya ada secercah harapan. Pakistan, bersama dengan Arab Saudi, Turkiye, dan Mesir, telah membentuk “Komite Empat” yang bertugas memfasilitasi komunikasi antara Washington dan Teheran. Pertemuan para menteri luar negeri di Islamabad pada akhir Maret 2026 menegaskan bahwa dunia Muslim memiliki kepentingan bersama untuk mengakhiri perang yang mengancam stabilitas kawasan.
Mushahid Hussain Sayed, mantan menteri informasi Pakistan, menyebut inisiatif ini sebagai “langkah bayi untuk diplomasi dalam skenario perang yang tidak hanya meningkat tetapi juga menjadi lebih rumit setiap hari”. Namun langkah bayi tetaplah langkah. Kehadiran empat negara yang memiliki hubungan baik dengan kedua belah pihak menciptakan ruang bagi komunikasi yang selama ini terputus.
Mengutip laporan CBS News oleh Jennifer Jacobs dan Margaret Brennan (27 Maret 2026), para pejabat Gedung Putih secara hati-hati optimis bahwa negosiasi terbaru ini menunjukkan kemajuan. Utusan Khusus AS Steve Witkoff mengonfirmasi bahwa Pakistan bertindak sebagai perantara dengan kontak langsung ke aparat keamanan Iran yang mengendalikan negara tersebut—bukan sekadar kementerian luar negeri. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahkan mengklaim bahwa “kemajuan konkret” telah dicapai, dengan meningkatnya aliran energi melalui Selat Hormuz sebagai bukti.
Namun optimisme itu harus dibaca dengan hati-hati. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt, dalam pernyataannya seperti dikutip CBS News, menegaskan bahwa sementara negosiasi diplomatik berlangsung, “Operasi Epic Fury terus berlanjut tanpa henti untuk mencapai tujuan militer yang ditetapkan oleh Panglima Tertinggi dan Pentagon”. Dengan kata lain, di meja perundingan, AS berbicara tentang perdamaian. Di medan perang, AS terus menghujani Iran dengan bom.
Satu hal yang menjadi pertanyaan krusial adalah apakah kedua belah pihak benar-benar menginginkan perdamaian (terutama AS dan Israel), atau sekadar menggunakan mediasi untuk mengulur waktu. Trump memperpanjang tenggat waktu ultimatumnya lima hari—sebuah indikasi bahwa ia mungkin menyadari bahwa tekanan maksimal tidak selalu membuahkan hasil. Iran, di sisi lain, tetap pada posisinya bahwa perang akan berakhir “ketika Teheran memutuskan” dan dengan syarat yang diajukannya sendiri, termasuk ganti rugi perang dan pengakuan atas kedaulatannya di Selat Hormuz.
Tanpa kompromi dari kedua sisi, 15 poin damai hanya akan menjadi dokumen lain yang menghiasi arsip diplomatik tanpa pernah diimplementasikan. Perang Iran telah memasuki bulan kedua, dengan korban jiwa terus berjatuhan, harga energi melambung tak terkendali, dan ketidakpastian global yang semakin dalam.
Para pemimpin di Washington dan Teheran harus menyadari bahwa tidak ada kemenangan absolut dalam konflik ini. Yang ada hanya kehancuran bersama jika jalan diplomasi terus diabaikan. Komite Empat pimpinan Pakistan menawarkan jalan keluar. Kini saatnya bagi kedua belah pihak untuk menunjukkan bahwa mereka benar-benar menginginkan perdamaian yang bukan sekadar menginginkannya dengan syarat yang mustahil dipenuhi lawan.[]






