Kamu Bisa Memulainya Sekarang!
Oleh: Adham Syarqawi, Penulis produktif dan motivator asal Palestina.
Dalam kitab Ibnu Hajar al-Asqalani, “Al-Jawahir wa al-Durar” (Permata dan Mutiara) disebutkan:
Imam al-Kisa’i, semoga Allah merahmatinya, adalah seorang penggembala hingga usia empat puluh tahun. Suatu hari, saat berjalan, ia melihat seorang ibu mendesak anaknya untuk pergi ke tempat halaqah Al-Quran, tetapi anak itu tidak mau pergi!
Ibu itu berkata kepadanya, “Anakku, pergilah ke tempat halaqah itu untuk belajar, agar ketika dewasa nanti kamu tidak menjadi seperti penggembala ini!”
Al-Kisa’i berpikir dalam hati, “Apakah aku akan menjadi contoh kebodohan?!”
Maka al-Kisa’i pun pergi, menjual dombanya, dan berangkat untuk mencari ilmu. Ia kemudian menjadi seorang imam dalam bahasa Arab, seorang imam dalam bacaan Al-Qur’an, dan contoh cita-cita yang tinggi!
Salah satu hal yang saya perhatikan dalam masalah-masalah yang ditanyakan orang kepada saya, atau melalui pertanyaan-pertanyaan dalam ceramah-ceramah saya, bahkan dari cerita-cerita yang saya dengar, adalah keyakinan bahwa begitu mencapai usia tertentu, mereka merasa sudah terlambat untuk melakukan apa pun!
Padahal tidak ada usia tertentu di mana orang sudah terlambat untuk memulai sesuatu yang baru.
Beberapa mahasiswa, jika menyelesaikan tahun pertama studi mereka dan tidak menyukai jurusan, atau tidak merasa cocok dengannya, mereka mengesankan seolah-olah mereka harus menanggungnya karena dipaksa, dan tidak ada jalan kembali sekarang—padahal dia baru berusia dua puluh tahun!
Beberapa orang ingin melakukan shalat sambil duduk di kursi padahal baru berusia empat puluh tahun, dan mengesankan seolah-olah tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu malaikat maut!
Usia empat puluh tahun ini, yang dianggap orang sudah terlambat untuk memulai, adalah usia di mana wahyu diturunkan kepada Nabi Muhammad Ssaw, lalu dengan wahyu itu Nabi saw mengubah seluruh dunia!
Saya tidak akan menyebutkan bahwa Nabi Nuh as berusia seribu tahun ketika beliau menulis halaman terakhir kisah tersebut!
Merasa tidak berdaya dan menyerah itu tidak mengenal batas usia, karena keduanya tidak berkaitan dengan angka, melainkan dengan pola pikir, cara berpikir, dan pandangan hidup!
Ibnu al-Jauzi mempelajari sepuluh qira’at (bacaan) Al-Qur’an pada usia delapan puluh tahun, sementara sebagian orang malu pergi ke markas tahfizh Al-Qur’an pada usia tiga puluh tahun!






