“Kalau kampus dengan kapasitas riset pangan dan agribisnis seperti IPB University hanya jadi penonton, rasanya ada yang tidak beres,” tegas Alfian dengan nada lugas.
Keterlibatan langsung tersebut dinilai akan membuka peluang besar untuk melakukan terobosan di ranah yang selama ini sulit dijangkau oleh akademisi.
“Dengan mengambil peran sebagai CoE MBG maka inovasi-inovasi yang lahir dari laboratorium dan kebun percobaan IPB University akhirnya bisa diuji dan diterapkan dalam skala nyata,” jelasnya lagi.
Pihak kampus juga memandang bahwa varietas pangan lokal unggulan serta teknologi pengolahan pangan yang efisien kini memiliki ruang untuk bergerak dari riset menuju dampak nyata.
Alfian Helmi merasa perlu meluruskan bahwa pengelolaan Satuan Pelayanan Pangan Bergizi (SPPG) tidak dilakukan langsung oleh pihak universitas sebagai institusi pendidikan.
“Berkaitan dengan SPPG, yang membangun dan mengelola SPPG bukan IPB secara langsung, melainkan PT BLST, holding company milik IPB, melalui yayasan yang dibentuk secara khusus,” ungkapnya memberikan klarifikasi.
Struktur tata kelola tersebut dipastikan terpisah secara profesional dari anggaran pendidikan maupun operasional akademik sehingga mandat utama kampus tetap terjaga.
Direktur PT BLST, Luhur Budijarso, menyampaikan harapan serius agar SPPG yang dikelola oleh perusahaan milik kampus tersebut bisa menjadi model yang direplikasi secara nasional.
“Bukan hanya soal dapurnya, tapi kesempatan berkontribusi di lapangan dan mendukung keberhasilan program pemerintah,” ujar Luhur mengenai visi perusahaan.
Model bisnis ini juga diharapkan menghasilkan pendapatan sehat yang sebagian besarnya akan dialokasikan kembali untuk mendukung riset, beasiswa, dan pengabdian masyarakat.
Luhur menambahkan bahwa dampak sesungguhnya dari sebuah kampus adalah ketika inovasi laboratorium bisa mengalir langsung ke meja makan anak-anak Indonesia.
Saat ini, terdapat dua lokasi dapur yang akan digarap oleh PT BLST, yakni di Kecamatan Ciampea dan Kecamatan Sukajaya, dengan satu lokasi yang sudah siap beroperasi.
“Target awal layanan mencakup ribuan penerima manfaat di wilayah sekitar,” ungkap Luhur mengenai jangkauan awal operasional dapur tersebut.






