RESONANSI

Kayu yang Datang Bersama Air

Normalisasi Bencana

Bahaya yang lebih besar adalah normalisasi. Ketika setiap banjir selalu membawa kayu, dan setiap kayu dianggap “bonus” musiman, maka pembalakan liar menemukan pembenaran tak langsung. Banjir bukan lagi alarm, melainkan rutinitas. Kerusakan hutan tak lagi dilihat sebagai sebab, melainkan latar belakang.

Di titik ini, masyarakat dan negara sama-sama terjebak dalam Normalcy Bias kolektif. Semua orang tahu ada yang salah, tapi semua bertindak seolah itu sudah biasa. Kayu hanyut menjadi pemandangan tahunan, bukan bukti kejahatan struktural.

Jalan Keluar yang Tak Populer

Solusi dari masalah ini tidak sederhana dan jarang populer. Negara harus hadir sebelum air naik, bukan setelahnya. Pengawasan hutan di hulu harus menjadi prioritas nyata, bukan jargon. Ketika kayu ilegal tidak lagi bisa ditebang dan keluar dari hutan, maka banjir kehilangan salah satu bahan bakarnya.

Di hilir, negara perlu mekanisme cepat dan adil untuk menangani kayu pascabencana. Transparansi pendataan, keputusan pemanfaatan untuk kepentingan publik, dan perlindungan hukum bagi warga korban banjir adalah keharusan. Tanpa itu, hukum hanya akan terlihat sebagai alat menghukum yang paling lemah.

Kayu yang Bicara

Kayu gelondongan yang terdampar itu sebenarnya sedang berbicara. Ia menceritakan tentang hutan yang hilang, sungai yang dilepas, dan negara yang terlalu sering absen. Pertanyaannya bukan semata boleh atau tidak bolehnya kayu itu dimanfaatkan. Pertanyaannya lebih mendasar: sampai kapan kita membiarkan banjir menjadi cara alam mengungkapkan kegagalan kita sendiri?

Selama kayu terus datang bersama air, selama itu pula kita tahu bahwa masalahnya belum pernah benar-benar ditangani dari hulunya.[]

Muhibbullah Azfa Manik, Dosen Universitas Bung Hatta Padang, Sumatera Barat.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button