JEJAK SEJARAH

Kegemilangan Peradaban Islam Atasi Fenomena ‘Job Hugging’

3. Bantuan Modal dan Sarana Produksi

Sejarah mencatat, Umar bin Khaththab ra. memberikan modal berupa unta dari baitul mal kepada rakyat agar bisa dipelihara dan dimanfaatkan. Ini adalah bentuk nyata negara memberi sarana produksi, bukan sekadar memberi santunan. Konsep ini sejalan dengan fikih qiradh (mudharabah) yang dibahas ulama seperti Imam Malik dan Imam Syafi’i, yaitu kerja sama antara pemilik modal dan pengelola kerja. Negara berperan sebagai fasilitator agar masyarakat yang miskin modal tetap bisa bekerja produktif.

4. Industrialisasi dan Urbanisasi

Masa Abbasiyah dikenal sebagai era keemasan industri. Baghdad menjadi pusat produksi kertas, kain, logam, dan kerajinan tangan. Industri ini menyerap ribuan pekerja karena negara mendorong riset dan keterampilan melalui baitul hikmah. Pada masa Utsmaniyah, sistem wakaf produktif dikelola negara untuk membiayai sekolah, rumah sakit, pasar, hingga karavan dagang.

Wakaf ini membuka banyak lapangan kerja baru sekaligus meningkatkan pelayanan sosial. Ibn Khaldun dalam al-Muqaddimah menegaskan bahwa “pekerjaan adalah sumber utama kemakmuran negara, sebab tanpa produksi manusia, harta tidak akan berputar.”

Bekerja Sebagai Ladang Ibadah

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menegaskan bahwa mencari nafkah untuk diri dan keluarga adalah ibadah. Dengan orientasi ini, umat Islam bekerja bukan sekadar mengejar gaji, melainkan memenuhi amanah Allah. Pandangan ini melahirkan generasi pekerja yang ulet, jujur, dan berintegritas, jauh dari fenomena burnout atau job hugging yang kita saksikan hari ini.

Penutup

Sejarah Islam menunjukkan bahwa jaminan lapangan kerja bukanlah jargon, melainkan kebijakan nyata. Dari pengelolaan tanah, sumber daya alam, pemberian modal, hingga industrialisasi, semuanya diarahkan agar rakyat dapat bekerja dan hidup layak.

Berbeda dengan kapitalisme yang menyerahkan pekerjaan pada logika pasar, Islam meletakkan tanggung jawab penuh di tangan negara. Inilah sebabnya dalam peradaban Islam tidak ditemukan pengangguran struktural sebagaimana yang melanda dunia modern.

Islam membuktikan: negara hadir bukan sekadar regulator, melainkan pelayan rakyat yang memastikan setiap individu punya akses pada pekerjaan halal, bermakna, dan bernilai ibadah. []

Raihana Muthi’ah, Praktisi Pendidikan di Malang.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button