Ketika Cinta kepada Rasulullah Saw Harus Dibuktikan dengan Ittiba’

Jangan sampai kita sibuk mempersiapkan acara Maulid, tetapi lupa mempersiapkan perubahan diri. Jangan sampai panggung dibongkar, pengeras suara dimatikan, konsumsi dibagikan, lalu semuanya selesai. Padahal semestinya justru setelah majelis selesai, perjuangan meneladani Rasulullah Saw dimulai.
Sebab Rasulullah tidak membutuhkan seremoni dari kita. Kitalah yang membutuhkan keteladanan beliau.
Kita membutuhkan beliau ketika dunia semakin kehilangan arah. Kita membutuhkan akhlaknya ketika ruang publik dipenuhi kemarahan. Kita membutuhkan kelembutannya ketika perbedaan mudah berubah menjadi permusuhan. Kita membutuhkan ketegasannya ketika prinsip mulai dikompromikan. Kita membutuhkan perjuangannya ketika umat mulai nyaman dengan keadaan dan lupa pada tanggung jawab dakwah.
Terlebih bagi orang tua dan pendidik, momentum Rabiul Awal semestinya menjadi kesempatan untuk bertanya: sudahkah kita mengenalkan Rasulullah Saw kepada generasi bukan hanya sebagai tokoh sejarah, tetapi sebagai manusia yang layak mereka cintai dan teladani?
Anak-anak hari ini hidup di tengah budaya follow. Mereka mengikuti siapa yang mereka kagumi. Mereka meniru gaya bicara, penampilan, kebiasaan, bahkan cara berpikir orang yang mereka lihat di layar. Maka persoalannya bukan apakah anak akan memiliki idola. Mereka hampir pasti akan memiliki sosok yang dikagumi. Persoalannya adalah siapa yang kita hadirkan sebagai standar keteladanan mereka.
Jika anak hanya mengenal tokoh yang populer, mereka akan belajar mengejar popularitas. Jika yang dikagumi adalah kemewahan, mereka akan menganggap kekayaan sebagai ukuran keberhasilan. Tetapi jika sejak dini mereka dikenalkan kepada Rasulullah Saw, mereka belajar bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh popularitas, harta, atau penampilan, melainkan oleh ketakwaan, akhlak, dan kontribusinya bagi kehidupan.
Karena itu, mengenalkan Rasulullah Saw kepada anak tidak cuku dengan meminta mereka menghafal nama, tanggal, atau peristiwa dalam sirah. Kita perlu menghadirkan kisah beliau sebagai nilai yang hidup. Ketika anak berbuat salah, kita ajarkan bagaimana Rasulullah Saw mendidik dengan hikmah. Ketika anak berselisih, kita kenalkan bagaimana beliau menyelesaikan persoalan. Ketika anak merasa sedih, kita ceritakan bagaimana Rasulullah Saw memperlakukan orang-orang yang sedang berada dalam kesulitan. Dengan demikian, sirah tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi sumber inspirasi untuk bertindak.
Pada akhirnya, Maulid seharunya mengantarkan kita pada tiga perjalanan: mengenal, mencintai, dan mengikuti.
Kita mengenal Rasulullah Saw melalui sirah dan ajarannya. Dari pengenalan itu tumbuh kekaguman dan cinta. Tetapi cinta tidak boleh berhenti sebagai rasa haru. Cinta harus bergerak menjadi ittiba—berusaha mengikuti petunjuk dan teladan beliau dalam kehidupan.
Sebab ada perbedaan besar antara mengagumi dan meneladani. Mengagumi membuat kita berkata, “Alangkah mulianya Rasulullah Saw” Meneladani membuat kita bertanya, “Apa yang bisa aku lakukan agar kemuliaan akhlak itu hadir dalam diriku?”
Mengagumi membuat kita senang mendengar kisah beliau Meneladani membuat kita berusaha mengubah perilaku setelah mendengarnya.
Mengagumi membuat kita mencintai sosoknya. Meneladani membuat kita berusaha mengikuti jalannya.






