Ketika Cinta kepada Rasulullah Saw Harus Dibuktikan dengan Ittiba’

Maka Rabiul Awal jangan hanya menjadi bulan ketika kita banyak berbicara tentang Rasulullah Saw . Jadikan ia momentum untuk mengevaluasi sejauh mana sunnah dan teladan beliau hadir dalam rumah kita, sekolah kita, pekerjaan kita, cara kita mendidik anak, cara kita memperlakukan pasangan, cara kita menghadapi perbedaan, dan cara kita berinteraksi dengan masyarakat.
Sebab Maulid yang bermakna bukan hanya yang membuatkita menangis ketika mendengar kisah Rasulullah Saw, tetapi yang membuat kita malu ketika akhlak kita ternyata masih jauh dari akhlak beliau.
Bukan hanya yang membuat kita ramai mengucapkan cinta, tetapi yang membuat kita bersungguh-sungguh memperbaiki diri.
Bukan hanya yang membuat kita mengenang kelahiran beliau, tetapi yang membuat keteladanan beliau “lahir kembali” dalam perilaku kita.
Karena itu, ketika Rabiul Awal datang, mari berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: sudahkah aku benar-benar mengenal Rasulullah Saw? Sudahkah aku mencintainya dengan cinta yang melahirkan ketaatan? Dan sudahkah cintaku itu terlihat dalam ittiba kepada beliau?
Sebab pada akhirnya, ukuran cinta bukanlah seberapa indah kita mengatakannya, tetapi seberapa sungguh kita mengikuti yang kita cintai.
Mengenal melahirkan cinta. Cinta melahirkan ittiba. Dan ittiba adalah salah satu bukti bahwa cinta itu benar-benar hidup.
Semoga Rabiul Awal tahun ini tidak sekadar berlalu sebagai kalender tahunan, tetapi menjadi titik balik: dari sekadar mengenang Rasulullah Saw menuju benar-benar meneladani beliau; dari sekadar mengagumi menuju mengikuti; dari sekadar berbicara tentang cinta menuju membuktikannya dalam kehidupan.
Karena Rasulullah Saw bukan hanya untuk dikenang. Beliau untuk dikenal, dicintai, dan diikuti. Wallahu a’lam bishowab.[]
Selvi Sri Wahyuni, M.Pd.






