NUIM HIDAYAT

Ketika Para Kiai Disembelih (2)

Seorang ibu, Nyonya Sakidi, mendengar suaminya dibantai PKI di Soco. Dia menyusul ke sana, sambil menggendong dua anak, umur satu dan tiga tahun.

Dia nekat minta melihat jenazah suaminya. Karena repot melayaninya, PKI sekalian membantai perempuan malang itu, dimasukkan dan dikubur di sumur yang sama, sementara kedua anaknya itu menyaksikan pembunuhan ibunya.

Adik Sakidi menyelamatkan kedua keponakannya itu. Yel-yel PKI di Madiun dalam gerakan Republik Sovyet tersebut. “Pondok bobrok, pondok bobrok! Langgar bubar, langgar bubar! Santri mati, santri mati!” yang disorakkan dengan penuh kebencian dan ancaman.”

Menebar Angin, Menuai Badai

Pada 13 Januari 1965 sekitar pukul 04.30 subuh, lebih kurang 3000 anggota massa PKI yang dipimpin Ketua Pengurus Cabang Pemuda Rakyat Kediri, Soerjadi mengadakan teror dengan melakukan penyerbuan terhadap para aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII).

Saat itu para pelajar sedang mengadakan mental training (pelatihan mental) di desa Kanigoro, Kediri, Jawa Timur. Pada kesempatan itu massa PKI melakukan pemukulan dan penganiayaan terhadap para Kiai dan imam masjid serta merusak masjid, dan bahkan menginjak-injak kitab suci Al-Qur’an.

Mereka melakukan penyerbuan sambil meneriakkan kata-kata antara lain: Ganyang Santri, Ganyang Masjumi, Ganyang Sorban, Ganyang Kapitalis, Ganyang Kontra Revolusi, Dulu waktu peristiwa Madiun besar kepala, kini rasakan pembalasan.

Selain ada aksi PKI di berbagai daerah, Ketua CC PKI DN Aidit dalam apel kesiapsiagaan Dwikora tanggal 2 April 1965, antara lain mengatakan bahwa, ”Manipol harus dibela dengan senjata. Manipol tidak bisa dibela hanya dengan tangan kosong. Oleh karena itu, latihan militer penting bagi orang-orang revolusioner manipolis dengan tujuan membela Manipol dengan senjata.”

Pada saat berlangsungnya peringatan HUT PKI ke-45 di Stadion Utama Senayan Jakarta, tanggal 23 Mei 1965, Ketua CC PKI mengomandokan kepada massa PKI untuk meningkatkan “ofensif revolusioner sampai ke puncaknya.”

Pada kesempatan HUT itu terpampang poster-poster raksasa, slogan-slogan tertulis menyeramkan seperti Ganyang Tujuh Setan Desa, Ganyang Tiga Setan Kota, Ganyang Kapbir (Kapitalis Birokrat), Intensifkan Konfrontasi Dengan Malaysia, Bantu Vietnam Utara, Ganyang Kebudayaan Ngak Ngik Ngok, Sekarang Juga Bentuk Angkatan V dan lain-lain.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button