OPINI

Kinerja Tinggi, Makna Rendah: Catatan dari Kampus yang Terlalu Sibuk Menilai

Manajemen kinerja sebenarnya bisa dirancang secara lebih manusiawi. Indikator dapat berfungsi sebagai pengingat tanggung jawab, bukan sekadar target. E-kinerja bisa menjadi alat refleksi, bukan sekadar alat kontrol. Kuncinya terletak pada cara kampus memandang dosen dan tenaga kependidikan: apakah semata sebagai pelaksana tugas, atau sebagai subjek akademik yang bekerja dengan kesadaran nilai.

Perguruan tinggi yang sehat adalah yang mampu menjaga keseimbangan antara mutu dan makna. Antara tuntutan akreditasi dan integritas keilmuan. Antara pencapaian kuantitatif dan kebermanfaatan sosial. Jika keseimbangan ini hilang, kampus mungkin tampak unggul di laporan, tetapi rapuh dalam jangka panjang.

Di tengah siklus evaluasi kinerja, perubahan kebijakan, dan tekanan globalisasi pendidikan, momen ini tepat untuk refleksi bersama. Bukan untuk menolak sistem, tetapi untuk menanyakan kembali arah. Apakah sistem yang kita bangun membantu kita menjadi pendidik yang lebih bertanggung jawab, atau justru menjauhkan kita dari hakikat kerja akademik?

Menilai kinerja memang penting. Tetapi memaknai kerja jauh lebih mendasar. Tanpa makna, kinerja hanya akan menjadi rutinitas yang menguras energi. Dengan makna, bahkan sistem yang ketat sekalipun bisa dijalani dengan kesadaran dan ketulusan.

Barangkali, di tengah kesibukan mengisi laporan dan mengejar skor, kampus perlu kembali pada pertanyaan paling sederhana: untuk siapa ilmu ini dihadirkan, dan kepada siapa kerja akademik ini harus dipertanggungjawabkan? []

*Dosen UNIDA Gontor, Ponorogo.

Laman sebelumnya 1 2
BACA JUGA
Close
Back to top button