OPINI

Kinerja Tinggi, Makna Rendah: Catatan dari Kampus yang Terlalu Sibuk Menilai

Oleh: Dr. Rakhmad Agung Hidayatullah, S.T., M.M.*

Belakangan ini, kampus-kampus di Indonesia semakin rajin menilai diri sendiri. Setiap aktivitas akademik diminta tercatat, terukur, dan terlaporkan. Dosen menghitung beban kerja, tenaga kependidikan mengisi indikator kinerja, pimpinan menyusun laporan capaian. Sistem e-kinerja berjalan hampir di semua perguruan tinggi, seiring dengan kebijakan Indikator Kinerja Utama (IKU) yang diperkenalkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sejak 2020.

Di atas kertas, semuanya tampak bergerak. Angka meningkat, laporan semakin rapi, dan akuntabilitas kian ditekankan. Namun di balik itu, muncul kegelisahan yang sulit ditangkap oleh grafik dan tabel: apakah kerja akademik kita masih terasa bermakna?

Data menunjukkan bahwa tekanan kinerja di kampus bukan sekadar perasaan subyektif. Hingga beberapa tahun terakhir, jumlah publikasi ilmiah Indonesia memang meningkat signifikan. Indonesia bahkan sempat masuk tiga besar dunia dalam jumlah publikasi terindeks Scopus. Namun sejumlah kajian juga mencatat bahwa lonjakan kuantitas ini tidak selalu diikuti oleh peningkatan kualitas sitasi dan relevansi riset terhadap persoalan masyarakat. Publikasi bertambah, tetapi jarak antara kampus dan realitas sosial sering kali tetap lebar.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) tentang pendidikan tinggi menunjukkan bahwa dosen di banyak negara menghadapi peningkatan beban administratif yang signifikan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk pengajaran dan penelitian justru terserap oleh pelaporan kinerja, evaluasi, dan kepatuhan institusional. OECD mencatat bahwa dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menurunkan kualitas refleksi akademik dan kepuasan kerja dosen.

Di tingkat individu dosen, beban administratif juga kian padat. Selain Tri Dharma, dosen harus memenuhi berbagai pelaporan: BKD, SISTER, SINTA, IKU, hingga e-kinerja internal kampus. Banyak waktu akademik terserap untuk memastikan setiap aktivitas “terbaca sistem”. Kerja menjadi sah bukan karena dampaknya, melainkan karena berhasil diunggah dan diverifikasi.

Masalahnya bukan pada sistem itu sendiri. Perguruan tinggi memang harus akuntabel, apalagi menggunakan dana publik dan diberi mandat mencerdaskan bangsa. Persoalannya muncul ketika penilaian bergeser dari sarana refleksi menjadi tujuan utama. Kampus menjadi terlalu sibuk menghitung, hingga lupa menimbang makna dari apa yang dihitung.

Dalam praktik sehari-hari, ini terasa jelas. Penelitian sering dikejar karena skor dan klasternya, bukan karena urgensi keilmuannya. Pengabdian masyarakat dirancang agar sesuai rubrik, bukan berangkat dari kebutuhan nyata. Pengajaran dipenuhi dokumen perencanaan, tetapi relasi dosen–mahasiswa makin tipis. Kinerja tampak tinggi, tetapi rasa keterhubungan dengan tujuan pendidikan justru menurun.

Situasi ini melahirkan kelelahan yang bukan semata administratif, melainkan kelelahan moral. Banyak akademisi bekerja keras, tetapi merasa asing dengan pekerjaannya sendiri. Sistem e-kinerja yang dimaksudkan untuk meningkatkan mutu justru kerap dirasakan sebagai alat kepatuhan. Yang penting tercatat, bukan direnungkan; yang utama memenuhi indikator, bukan memperdalam makna.

Di titik inilah penting mengambil jarak. Pendidikan tinggi bukan pabrik angka. Ia adalah ruang pembentukan manusia dan pengetahuan. Ketika seluruh energi diarahkan pada pemenuhan indikator, ada risiko orientasi kerja akademik bergeser: dari pengabdian ke pencapaian, dari amanah ke administrasi.

Tradisi pesantren memberi cermin yang menarik. Dalam pengalaman pesantren, kerja selalu dilekatkan pada niat. Pengabdian dipahami sebagai bagian dari pendidikan karakter, bukan sekadar fungsi organisasi. Prinsip seperti bondo, bahu, pikir, lek perlu sak nyawane pisan menegaskan bahwa bekerja berarti melibatkan diri secara utuh—bukan hanya output, tetapi kesungguhan batin.

Prinsip ini tentu tidak bisa diterapkan mentah-mentah di semua kampus. Namun semangatnya relevan untuk membaca ulang manajemen kinerja hari ini. Bahwa sistem tanpa orientasi etis berisiko melahirkan kepatuhan kosong. Bahwa indikator tanpa niat mudah berubah menjadi rutinitas yang melelahkan.

Ironisnya, dimensi ini nyaris tak mendapat ruang dalam kebijakan pendidikan tinggi. Dokumen resmi berbicara panjang tentang capaian, tetapi jarang menyentuh orientasi moral kerja akademik. Padahal, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak yang dihasilkan, tetapi juga oleh kesadaran mengapa itu dihasilkan.

1 2Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button