Kolumnis Israel Peringatkan Perluasan Boikot Jika Netanyahu Tetap Berkuasa
Jerusalem (Suaraislam.id) — Seorang kolumnis terkemuka Israel memperingatkan bahwa Israel dapat menjadi semakin terisolasi secara internasional jika Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tetap berkuasa. Dampak dari isolasi tersebut dapat segera memengaruhi keuangan, perbankan, dan perjalanan udara warga Israel seiring meningkatnya seruan boikot.
Menulis untuk Yedioth Ahronoth, pada Senin (28/9/2026), Nahum Barnea menyatakan bahwa pemerintah negara-negara Eropa menahan sanksi hingga usai pemilu Israel yang dijadwalkan pada 27 Oktober mendatang.
Ia mengisyaratkan bahwa langkah-langkah pengetatan terkait pemukiman di Tepi Barat yang diduduki dapat meluas ke sektor bisnis, visa, olahraga, kebudayaan, hingga penelitian di tengah meningkatnya tekanan di seluruh Eropa untuk mengisolasi Israel.
Barnea menyebutkan bahwa tekanan publik di Eropa untuk memboikot Israel terus meningkat. “Masalah kita, sayangnya, terjadi dengan negara-negara demokratis. Dengan negara-negara kediktatoran, untuk saat ini, kita berhubungan cukup baik,” tulisnya pada Senin (28/9/2026).
“Dorongan boikot telah meluas ke ranah olahraga, kebudayaan, dan akademisi,” tambahnya.
Asosiasi Sepak Bola Irlandia telah mendesak UEFA untuk menangguhkan keanggotaan Israel. Sementara itu, lembaga penyiaran Irlandia dan Eropa lainnya telah bergerak memboikot Eurovision atas keikutsertaan Israel, tambah Barnea.
Barnea juga memperingatkan bahwa tekanan tersebut dapat menjangkau program-program internasional yang masih diikuti Israel, termasuk program penelitian Horizon Europe milik Uni Eropa.
Mengenai penerbangan, ia menunjuk pada pembatalan penerbangan dari Israel ke Mauritius setelah otoritas Mauritius menolak izin mendarat bagi pesawat Air Seychelles.
“Dari sana, potensi masalah akan berlipat ganda: maskapai ditolak melakukan pengisian bahan bakar, penerbangan dari Tel Aviv dibatalkan, serta pengiriman senjata dicegah untuk dimuat atau dibongkar,” tulis Barnea pada Senin (28/9/2026).
Keputusan dari serikat pekerja, pengatur lalu lintas udara, petugas penanganan bagasi, atau staf keamanan sudah cukup untuk mengganggu moda transportasi, tambahnya.
“Dalam pandangan saya, apa yang dimulai di Eropa tidak selalu akan berhenti di sana,” tegas Barnea pada Senin (28/9/2026).
Ia juga memperingatkan dampak serius jika Netanyahu memenangi pemilu. “Jika ia berhasil membentuk pemerintah berikutnya, fakta itu saja sudah cukup bagi banyak penentang Israel di luar negeri,” tulis Barnea.
Netanyahu, tambahnya, “bukan lagi sekadar politisi yang muncul di berita. Ia telah menjadi simbol dan merek global.”
Seruan internasional untuk memboikot Israel terus meningkat akibat perang di Jalur Gaza sejak Oktober 2023 dan kebijakan pemukiman ilegalnya di Tepi Barat yang diduduki.[]
Sumber: Anadolu Agency






