Mengapa Partai-Partai Arab Sulit Menjadi ‘Penentu Kemenangan’ dalam Pemilu Israel?
Proyeksi hitung cepat menunjukkan jika blok Eisenkot berkoalisi dengan partai-partai Arab, mereka dapat menggeser Netanyahu. Namun, para pengamat tidak yakin hal itu akan terjadi.
Oleh: Urooba Jamal
Partai-partai yang dipimpin warga Arab di Israel diproyeksikan meraih rekor jumlah kursi di parlemen Israel, sebagaimana ditunjukkan oleh hasil hitung cepat. Hal ini membuat keberadaan mereka makin sulit diabaikan oleh blok-blok politik utama.
“Mungkin fenomena paling penting dari pemilu ini adalah bangkitnya kembali suara warga Arab,” kata Daniel Shek, mantan duta besar Israel. “Pernyataan ini jelas: Anda tidak dapat mengabaikan porsi pemilih sebesar itu dalam kalkulasi politik Israel.”
Proyeksi terbaru dari pemungutan suara pada Selasa (27/10/2026) menunjukkan bahwa partai-partai Arab—Daftar Bersama (Joint List) dan Ra’am—dapat meraih total 17 kursi di Knesset yang beranggotakan 120 orang.
Sejauh ini belum ada pemenang yang jelas, karena hasil sementara memberikan 54 kursi kepada blok Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan 49 kursi kepada aliansi oposisi yang dipimpin oleh Gadi Eisenkot.
Meskipun secara teoritis partai-partai Arab dapat memiliki pengaruh saat kedua blok utama gagal meraih mayoritas, para pengamat menyebut mereka bukan kingmaker (penentu kemenangan). Hal ini disebabkan oleh veto politik yang membatasi kemampuan partai-partai Arab untuk mengubah perolehan suara menjadi pengaruh pemerintahan.
“Veto ini berakar pada struktur rasis yang menganggap warga negara Arab tidak sah dan sebagai mitra yang tidak diinginkan,” ujar Honaida Ghanam, Direktur Jenderal Forum Palestina untuk Studi Israel di Ramallah, Tepi Barat, merujuk pada penolakan mayoritas partai Israel untuk membentuk pemerintahan bersama daftar calon dari Arab kepada Al Jazeera.
Baik Netanyahu maupun Eisenkot telah menolak gagasan untuk bermitra dengan partai Arab dengan alasan ketiadaan kesamaan nilai.
Apa yang Ditunjukkan oleh Angka?
Angka-angka dari proyeksi hitung cepat tampak jelas: jika blok Eisenkot berkoalisi dengan partai-partai Arab, mereka dapat mengamankan 61 kursi yang dibutuhkan untuk meraih mayoritas di parlemen dan menggeser Netanyahu.
Menurut laporan The Times of Israel, hasil sementara akan memberikan 66 kursi bagi kemitraan antara aliansi oposisi Eisenkot dan partai-partai yang dipimpin warga Arab.
Menurut analis politik Palestina, Ahmed Najar, ketidakmauan blok oposisi untuk menggabungkan kekuatan murni bersifat ideologis.
“Eisenkot telah memberlakukan tes loyalitas pada partai-partai Arab dan mengesampingkan kebergantungan pada mereka, bahkan ketika aritmatika pemilu menjadikan dukungan mereka sangat penting,” kata Najar kepada Al Jazeera.






