Konferensi Perjanjian untuk Yerusalem, Seruan Kolektif Bela Palestina

Turki: Palestina Adalah Isu Moral Bangsa
Dalam sesi Turki, Wakil Mufti Istanbul menyampaikan pesan Kepala Direktorat Urusan Agama Turki: “Kami memperbarui janji kami kepada Yerusalem… Palestina adalah isu agama dan moral bagi rakyat Turki.”
Sementara itu, Dr. Hassan Turan dari Parlemen Turki menambahkan: “Siapa pun yang ingin belajar tentang martabat harus belajar dari Gaza.”
Gerakan Internasional dan Kenangan Penjara Negev
Aktivis global Tara O’Grady menghadirkan kesaksian yang paling menyentuh human interest dalam konferensi ini. Ia menggambarkan bagaimana dunia telah “terbiasa menormalisasi genosida di Gaza”.
O’Grady menceritakan pengalamannya ketika Armada Kebebasan dicegat, para aktivis ditangkap, dan ia dipenjara di Penjara Negev. Grafiti para tahanan—anak muda, ibu, dan warga sipil Palestina—tetap menghantuinya hingga kini.
“Seberapa keras suara rakyat Palestina harus berkumandang sebelum dunia terbangun?” katanya lirih, menegaskan bahwa keheningan dunia adalah bagian dari tragedi Gaza.
Ia juga mengumumkan persiapan armada baru pada 2026 untuk memecah pengepungan Gaza.
Penghormatan dan Seni untuk Gaza
Pembukaan konferensi turut menampilkan: Penghormatan kepada aktivis Arab, Prof. Maan Bashour, atas lebih dari enam dekade dedikasinya untuk Palestina.
Pertunjukan teater “Gema Laut”, yang menggambarkan tragedi pengungsian berulang rakyat Gaza—anak-anak yang kehilangan rumah, ibu yang mencari keluarga di tengah reruntuhan, hingga lansia yang terusir berkali-kali.
Pertunjukan itu membuat banyak hadirin meneteskan air mata, mengingatkan bahwa di balik angka korban, terdapat manusia dengan luka yang tak terlihat.
Konferensi yang Memperbarui Keselarasan Dunia Arab dan Islam
Konferensi Perjanjian untuk Yerusalem diselenggarakan oleh Yayasan Internasional Yerusalem bersama puluhan organisasi masyarakat sipil dari dunia Arab dan Islam. Tujuannya jelas: memperbarui keselarasan untuk menghadapi upaya penghapusan perjuangan Palestina yang kini dilakukan Israel melalui genosida.
Momentum ini mengingatkan pada rangkaian konferensi sejarah—1931, 1997, 2001, 2007—ketika bangsa Arab dan Islam bersatu menghadapi tekanan kolonialisme.
Kesimpulan: Yerusalem Tetap Kompas Perjuangan
Dari pidato, kesaksian, hingga pertunjukan seni, satu pesan besar mengalir dari konferensi: Kesadaran, tindakan, dan kemauan adalah alat perlawanan. Yerusalem adalah kompas bangsa. Pembebasan Palestina adalah proyek yang tidak dapat dihapuskan.
Di tengah upaya Israel untuk menghapus identitas dan keberadaan Palestina melalui kekerasan, konferensi ini menjadi pengingat bahwa suara manusia dan solidaritas global tetap hidup—dan semakin kuat.
sumber: infopalestina






