Kontroversial, Pemenang Nobel Perdamaian 2025 Ternyata Pendukung Genosida Israel di Gaza
Sekutu Washington dan Ekstremis Sayap Kanan Seluruh Dunia
Sebagai seseorang yang memiliki ideologi sayap kanan, ia telah memposisikan diri dengan kelompok-kelompok kontroversial lainnya di panggung internasional. Salah satunya adalah dengan mendedikasikan Nobel Perdamaian yang ia dapatkan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Hal ini dan rekam jejak lainnya menunjukkan baiknya hubungan Machado AS dan Trump secara khusus. Venezuelan Analysis melaporkan dukungan yang ia berikan kepada Trump diberikan sejak tahun 2020.
Pada 2023, ia memberikan dukungan terhadap politikus sayap kanan Argentina Javier Milei, seorang sayap kanan dengan kontroversi korupsi.
Dukungan ini ia berikan melalui pernyataan-pernyataan mengharapkan “kekalahan telak Kirchnerisme” dalam pemilu 2023 di Argentina. Pada saat yang sama, ia menyebut Milei “sangat jernih, berani, dan penuh energi.”
Selain itu, Machado pun memiliki relasi dengan partai ekstremis sayap kanan di Spanyol seperti VOX. Dalam satu waktu ia memanggil Santiago Abascal sebagai seorang “teman.”
Siapa María Corina Machado?
María Corina Machado Parisca memiliki tiga anak dan merupakan anak tertua dari empat bersaudara.
Ayah Machado adalah seorang pengusaha bergengsi di industri logam yang perusahaannya dinasionalisasi oleh Hugo Chávez, pendahulu Maduro. Ibunya adalah seorang psikolog dan pemain tenis ternama.
Sebagai seorang insinyur industri dengan spesialisasi keuangan, María Corina bekerja di dunia bisnis sebelum bergabung dengan berbagai organisasi yang berfokus pada pengentasan kemiskinan dan pengawasan pemilu.
Dari sana, ia semakin dekat dengan Partai Republik di Amerika Serikat—negara tempat ia tinggal dan menjalin ikatan serta koneksi politik dengannya.
Chavismo selalu menganggapnya sebagai kaki tangan “rencana kudeta imperialis.”
Dakwaan pertama yang diajukan terhadapnya adalah dugaan menerima uang secara ilegal dari yayasan-yayasan AS, dakwaan yang berujung pada larangan bepergian selama tiga tahun.
Pada 2010, ia menjadi bagian dari Majelis Nasional sebagai wakil independen dengan pesan anti-komunis, dan pada 2012 ia kalah dalam pemilihan pendahuluan presiden oposisi dari Henrique Capriles.





