NASIONAL

Kontroversial, Pemenang Nobel Perdamaian 2025 Ternyata Pendukung Genosida Israel di Gaza

Jakarta (SI Online) – Penobatan politikus sayap kanan Venezuela, Maria Corina Machado, sebagai pemenang Nobel Perdamaian 2025 belakangan menuai kontroversi.

Kritik bermunculan datang karena Machado diketahui sebagai pendukung Israel dan genosida Gaza. Ia juga diketahui meminta intervensi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Argentina untuk menjatuhkan rezim Nicolas Maduro di Venezuela pada 2018 lalu.

Diklaim tokoh kunci dalam pergerakan pro-demokrasi Venezuela, Komite Nobel Norwegia mengumumkan kemenangan Machado atas kontribusi yang ia berikan dalam perlawanan yang ia lakukan terhadap rezim diktator di negara asalnya itu, seperti dilansir oleh NDTV.

Akan tetapi, dalam waktu beberapa jam pengumuman nobel perdamaian, kritik dari berbagai pihak muncul. Kritik utamanya muncul karena hubungan yang ia dimiliki Machado dengan Israel dan rezim Benjamin Netanyahu, perdana menteri Israel dan sekutu AS .

Kedekatan Machado dan Netanyahu

Afiliasi Machado dan Netanyahu dapat ditelusuri memiliki jejak dari tujuh tahun lalu. Pada 2018, Machado mengirimkan sebuah surat kepada Presiden Argentina saat itu, Mauricio Macri, dan Benjamin Netanyahu. Surat ini berisikan permohonan intervensi dalam bentuk pengiriman “kekuatan” dan pengaruh untuk menjatuhkan rezim Maduro.

Meskipun menjadi titik kritik, rekam jejak ini bukan satu-satunya alasan kontroversi penerima Nobel Perdamaian tahun ini.

Unggahan Machado di media sosial telah secara konsisten menjadi bukti bahwa ia merupakan sekutu dari Netanyahu. Ia pernah mengatakan “perjuangan Venezuela adalah perjuangan Israel.”

Ia juga berjanji untuk memindahkan kedutaan Venezuela dari Tel Aviv ke Jerusalem, jika ia berkuasa.

Pada 2020, Nournews melaporkan, Partai Vente Venezuela, di bawah Machado, menjalin kerja sama dengan partai Likud Benjamin Netanyahu. Pengumuman resmi merincikan kerja sama di “isu-isu politik, ideologi dan sosial, serta membuat kemajuan pada isu-isu terkait strategi, geopolitik dan keamanan.”

Bjornar Moxnes, anggota parlemen Norwegia, mengutarakan bahwa kerja sama ini menjadi bukti bahwa “penghargaan kepada Machado tidak sejalan dengan tujuan Nobel.”

Dewan Hubungan Amerika-Islam atau CAIR, sebuah organisasi sipil berbasis di AS, menyatakan bahwa “Komite Nobel Perdamaian seharusnya memberikan penghargaan kepada mereka yang menunjukkan konsistensi moral dengan berani memperjuangkan keadilan bagi semua orang,” kata CAIR.

“Seperti mahasiswa, jurnalis, aktivis, dan tenaga medis yang mempertaruhkan karier dan bahkan nyawa mereka untuk melawan kejahatan di zaman kita: genosida di Gaza.”

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button