Kriminalisasi Solidaritas Palestina, Empat Aktivis Tunisia Dipenjara
Ia juga menyatakan bahwa penggalangan dana berlangsung di lokasi yang diketahui publik. Kegiatan tersebut berjalan “di bawah perlindungan aparat keamanan dan di bawah pengawasan negara”.
Otoritas Tunisia belum merinci secara terbuka tuduhan terhadap keempat orang tersebut. Mereka juga belum menanggapi permintaan komentar mengenai penahanan para aktivis maupun kondisi kesehatan Naouar.
Para pendukung tahanan menolak tuduhan tersebut dan menilai kasus ini bertujuan untuk mengkriminalisasi solidaritas terhadap warga Palestina serta menghentikan upaya pengorganisasian armada bantuan berikutnya ke Gaza. Pihak Global Sumud Flotilla menggambarkan tuduhan tersebut tidak berdasar dan mendesak agar para aktivis segera dibebaskan.
“Apa yang terjadi padanya [Naouar] dan para tahanan lainnya tidak dapat diperlakukan sekadar sebagai kasus hukum terpisah yang terlepas dari konteks politiknya,” kata Harrathi kepada Al Jazeera.
Kasus ini mengemuka di tengah meningkatnya kritik internasional terhadap perlakuan Tunisia terhadap kelompok masyarakat sipil dan para aktivis.
Laporan Human Rights Watch yang diterbitkan pekan lalu mendokumentasikan apa yang mereka sebut sebagai “penyalahgunaan” Penyelidikan Keuangan dan Pidana. Langkah tersebut disertai penangkapan, penahanan, dan tindakan administratif terhadap organisasi masyarakat sipil beserta anggotanya di negara tersebut.
Lembaga tersebut mencatat sedikitnya 47 orang yang terhubung dengan LSM di Tunisia telah diproses hukum, serta sedikitnya 14 orang telah divonis dan dijatuhi hukuman penjara sejak tahun 2025.
Human Rights Watch menyatakan bahwa otoritas menggunakan undang-undang kejahatan keuangan dan pencucian uang terhadap para pembela hak asasi manusia dan pekerja LSM. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa penyelidikan semacam itu digunakan untuk menakut-nakuti dan membatasi ruang gerak sipil.
Sementara itu, Rachid Othmani, anggota Komite Nasional untuk Pembelaan Aktivis Sumud Flotilla, berbicara dalam rapat umum solidaritas di Tunis pada hari Minggu. Ia menegaskan bahwa para pendukung tidak akan tunduk pada ancaman penjara atau penindasan dan akan melanjutkan kampanye hingga para tahanan dibebaskan.
“Mata dan hati kami bersama kawan kami Wael, yang berdiri teguh menghadapi kematian,” kata Othmani. “Kehidupan dan warisannya akan lebih panjang dan lebih besar daripada mereka yang menahannya.”
Aktivis Brasil, Thiago Avila, yang ikut serta dalam armada flotilla dan sebelumnya pernah ditahan oleh Israel, juga menyerukan agar para aktivis Tunisia dibebaskan. Ia menegaskan bahwa tidak boleh ada seorang pun yang ditahan karena bertindak atas dasar solidaritas terhadap warga Palestina.
Kelompok hak asasi manusia HuMENA turut mendesak pembebasan mereka. Mereka menyatakan bahwa penahanan pra-persidangan yang terus berlanjut menimbulkan kekhawatiran atas proses hukum yang adil (due process) dan kriminalisasi terhadap kegiatan sipil yang damai.






