NUSANTARA

Kontribusi Soeharto untuk Umat Islam Indonesia

Oleh: Fadh Ahmad Arifan (Alumni Studi Ilmu Agama Islam UIN Malang)

Lembaran sejarah Indonesia pernah diwarnai sosok yang cukup berpengaruh hingga kini. Sosok itu adalah Haji Muhammad Soeharto.

Soeharto lahir pada tanggal 8 Juni 1921. Presiden Prabowo Subianto telah mengusulkan namanya sebagai Pahlawan Nasional.

Sekalipun Jenderal Murah Senyum ini sudah bersemayam di alam barzakh, namanya tidak tenggelam begitu saja. Terhadap orang yang sudah wafat, idealnya kita membahas aspek-aspek positifnya.

Tulisan singkat ini membahas sejauh mana kontribusi yang diberikan Soeharto kepada muslim Indonesia. Berdasarkan data yang dihimpun, usaha islamisasi yang dilakukannya berkaitan dengan masa senjanya.

Masyarakat Jawa di kala masa senja akan makin religius. Hal itu sebagaimana dikutip dari artikel M. Bambang Pranowo dalam buku Reinventing Indonesia (Mizan, 2008).

Sejarah mencatat Soeharto pada awal mengendalikan Republik Indonesia terlihat alergi terhadap Islam. Contoh sederhananya, ia alergi dengan kata “insya Allah“.

Hal itu diungkapkan Salim Said dalam buku Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto. Kata “insya Allah” diucapkan Subchan Z.E. saat menemui Soeharto di kantor Kostrad.

Subchan Z.E. tidak sendirian, ia didampingi oleh Harry Tjan Silalahi. Usai pertemuan, Subchan berkata kepada Harry, “Wah, Soeharto ini memang abangan tulen.”

Alerginya Soeharto terhadap hal-hal berbau Islam disebabkan latar belakangnya yang suka melakukan tirakat sejak usia belia. Ia ber-KTP Islam, tetapi pada hakikatnya seorang kejawen.

Hal itu disinggung dalam tulisan Andreas Harsono yang terbit di laman hrw.org (23/3/2023). “Pada September 1974, ketika Presiden Soeharto mempertimbangkan untuk menyerbu Timor Portugis, dia terbang dari Jakarta ke Dataran Tinggi Dieng untuk tirakat. Dia mengundang tamunya, PM Australia Gough Whitlam, pergi ke Dieng, tempat Soeharto mendatangi Gua Semar untuk tirakat.”

Perjalanan waktu mampu mengubah karakter seseorang. Karakter yang awalnya alergi Islam berganti menjadi mendekat kepada Islam.

Presiden yang berpihak kepada Islam otomatis berperan langsung dalam islamisasi bangsa ini. Jika dicermati lebih dalam, ada tiga bentuk kontribusi nyatanya, yaitu ranah ibadah, ekonomi, dan hukum.

Adapun pada ranah politik, Soeharto tidak menyukai pembahasan Piagam Jakarta dan rehabilitasi Masyumi. Ia juga tidak suka Nahdlatul Ulama dipimpin oleh kadernya sendiri.

Maksimalnya, umat Islam di ranah politik hanya direstui mendirikan Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI).

Ranah Ibadah dan Ekonomi

Ranah ibadah diwujudkan dalam bentuk pendirian masjid-masjid melalui Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila. Laman soeharto.co menyebutkan bahwa yayasan ini juga mengadakan Kegiatan Da’i Transmigrasi bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia untuk 2.688 orang dai.

Masih dalam ranah ibadah, Soeharto tercatat pergi haji bersama Bu Tien. Selesai berhaji pada tahun 1991, namanya berganti menjadi Haji Muhammad Soeharto.

Perkara haji sungguhan atau sekadar pencitraan, hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tahu. Satu hal yang perlu diingat pembaca, pada posisi ini Pak Harto telah beralih citra dari sosok abangan ke santri.

Beralih ke ranah ekonomi, Soeharto merestui pendirian Bank Muamalat Indonesia. Bank tersebut dipromotori secara utama oleh K.H. Hasan Basri.

Laman bisnis.com (26/4/2021) mewartakan bahwa Soeharto kala itu mengimbau calon jamaah haji untuk ikut membeli saham Bank Muamalat Indonesia. Langkah yang disarankan adalah menyisihkan sebagian biaya transportasi ke daerah masing-masing untuk menambah modal bank baru ini.

1 2Laman berikutnya
Back to top button