Lagari Hasan Çelebi, Pelopor Roket dari Era Kesultanan Utsmani
Oleh: Andrian Permana (Mahasiswa S3 – KFUPM, Saudi Arabia)
Dunia kembali disuguhi tontonan roket dan rudal yang lalu-lalang di langit Timur Tengah. Negara-negara seperti Iran, Israel, hingga Amerika Serikat saling unjuk kekuatan militer.
Roket menjadi salah satu penanda paling jelas dari kekuatan suatu negara pada masa kini. Keberadaannya digunakan untuk saling menggertak secara militer maupun untuk tujuan damai, seperti mengorbitkan satelit komunikasi hingga mengantar wahana ke Bulan dan Mars.
Jauh sebelum roket dikuasai oleh National Aeronautics and Space Administration (NASA) atau Pentagon, ada satu nama yang jarang disebut, yaitu Lagari Hasan Çelebi. Ia hidup pada masa Kesultanan Utsmani dan dicatat dalam sejarah Islam sebagai salah satu orang pertama yang mencoba terbang menggunakan roket buatan sendiri.
Kisah ini memang tidak lepas dari perdebatan para sejarawan. Namun, terlepas dari kontroversi tersebut, ada pelajaran berharga yang menarik untuk direnungkan.
Roket di Atas Sarayburnu
Sumber utama kisah Lagari berasal dari Seyahatname, sebuah buku catatan perjalanan karya Evliya Çelebi. Penulis merupakan pengembara Utsmani yang karyanya menjadi rujukan banyak sejarawan hingga kini.
Dalam catatan tersebut, Lagari disebut sebagai saudara dari Hezarfen Ahmed Çelebi. Ahmed lebih dulu terkenal karena nekat terbang menggunakan sayap buatan, menyeberangi Selat Bosphorus, dan mendarat di Uskudar.
Lagari diperkirakan melakukan aksinya sekitar tahun 1633, bertepatan dengan perayaan kelahiran putri Sultan Murad IV. Ia merancang tabung bermuatan mesiu yang dilengkapi sirip penyeimbang pada badannya.
Di hadapan Sultan dan kerumunan warga di kawasan Sarayburnu, Istanbul, ia menaiki roket buatannya lalu meluncur ke udara. Setelah bahan bakar habis, ia membuka semacam sayap untuk memperlambat laju jatuh, mendarat di laut, kemudian berenang kembali ke pantai.
Hingga saat ini, belum ada catatan sejarah sekunder yang menguatkan narasi Evliya Çelebi tersebut. Hal ini menyebabkan para sejarawan masih berbeda pendapat mengenai tingkat akurasi kisah ini.
Meski demikian, terdapat satu hal yang disepakati: eksperimen ilmiah semacam ini bukanlah hal asing dalam peradaban Islam masa itu.
Ketika Ilmu Punya Tempat di Istana
Kisah seperti yang dialami Lagari dapat lahir dan bertahan karena adanya iklim keilmuan yang mendukung. Tradisi berpikir rasional dalam Islam tumbuh subur karena didorong langsung oleh perintah syariat untuk membaca, mengamati, dan mengkaji ciptaan Allah Swt.
Eksperimen Lagari yang dipertontonkan di hadapan Sultan menunjukkan bahwa penguasa masa itu memberikan ruang dan panggung bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Allah Swt. berfirman:
“Katakanlah: Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi!” (QS. Yunus: 101).






