Lagi, Kameramen Al Jazeera Gugur akibat Serangan Udara Israel di Gaza
Dalam sebuah pernyataan kepada AFP pada Sabtu, juru bicara militer Israel kembali melontarkan tuduhan serupa terhadap Ahmed Wishah. Tanpa memberikan bukti apa pun, mereka menuduh Ahmed sebagai “teroris Hamas”.
Namun, melalui pernyataan resmi, Al Jazeera membantah keras tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai propaganda “tanpa dasar”.
Al Jazeera menyatakan bahwa militer Israel telah “tanpa henti menyebarkan tuduhan palsu” terhadap staf mereka. Hal itu dinilai sengaja dilakukan untuk “menjustifikasi kejahatan terhadap jurnalis dan kameramen Al Jazeera di Gaza”.
“Upaya ini tidak menipu siapa pun dan tidak dapat menutupi kebenaran yang disaksikan dunia,” tegas jaringan media tersebut seraya menyebut tindakan itu sebagai “kampanye hitam”.
Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) sebelumnya juga telah mengecam tindakan Israel yang kerap “mencoreng nama baik jurnalis Palestina yang terbunuh”.
Kelompok kebebasan pers tersebut menyatakan telah mendokumentasikan pola Israel yang sering kali “menuduh jurnalis sebagai teroris tanpa menghasilkan bukti yang kredibel”.
Dalam pernyataan Sabtu itu, Al Jazeera menegaskan tekadnya “untuk mengambil setiap langkah hukum yang tersedia guna menuntut para pelaku kejahatan” terhadap staf mereka di Gaza.
Mereka menambahkan akan tetap berkomitmen untuk meliput berbagai peristiwa di wilayah kantong tersebut, meskipun ada “upaya militer Israel untuk membungkam suara kebenaran”.
CPJ melaporkan bahwa sedikitnya 260 jurnalis Palestina telah gugur sejak perang Israel di Gaza dimulai pada Oktober 2023.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan pada Sabtu bahwa sejak perang genosida Israel dimulai, sebanyak 73.018 orang telah tewas dan 173.273 orang lainnya luka-luka.
Sejak ‘gencatan senjata’ diumumkan pada Oktober lalu, serangan Israel tercatat telah menewaskan 1.007 orang dan melukai 3.165 orang.[]
Sumber: Al Jazeera






