Larangan Berlaku Bakhil: Tafsir Surat An-Nisa’ ayat 37
Ath-Ṭabari dalam kitab tafsirnya, “Jami’ Al-Bayan” juga berpandangan bahwa ayat ini merupakan kecaman terhadap orang-orang yang bersikap kikir dengan menahan harta dari kewajiban yang telah Allah tetapkan, seperti zakat dan infak, serta enggan berbagi kepada sesama. Keburukan tersebut semakin berat ketika kebakhilan itu tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi juga disertai upaya mengajak dan mempengaruhi orang lain agar bersikap serupa.
Sedangkan Ibnu Katsir dalam “Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim” juga mengatakan hal yang sama bahwa ayat ini Allah SWT mencela dan mengecam orang-orang yang kikir dengan harta benda mereka, tidak mau menginfakkannya untuk keperluan hal-hal yang diperintahkan oleh Allah, seperti berbakti kepada kedua orang tua, berbuat kebajikan kepada kaum kerabat, anak-anak yatim, orang orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh dan teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya yang mereka miliki.
Sebagian ulama Salaf menginterpretasikan makna ayat ini ditujukan kepada kekikiran orang-orang Yahudi, karena mereka telah mengetahui perihal sifat kenabian Nabi Muhammad Sawmelalui kitab-kitab yang ada di tangan mereka, tetapi mereka menyembunyikannya. Maka tidak diragukan lagi memang ayat ini mengandung pengertian tersebut. Tetapi makna lahiriah ayat menunjukkan sifat kikir dalam masalah harta benda.
Hikmah dan Pelajaran penting yang dapat diambil dari isi kandungan ayat di atas Adalah sebagai berikut:
- Bahaya sifat kikir bagi individu dan Masyarakat
Ayat ini mengajarkan bahwa sifat kikir bukan sekadar kelemahan pribadi, tetapi penyakit moral yang merusak hubungan sosial. Orang yang kikir menutup pintu kebaikan, melemahkan solidaritas, dan memperlebar kesenjangan sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini menuntut setiap muslim untuk membiasakan diri berbagi, baik melalui zakat, infak, sedekah, maupun bantuan sederhana kepada sesama.
- Larangan mengajak orang lain berbuat keburukan
Allah tidak hanya mencela orang yang kikir, tetapi juga mereka yang mengajak orang lain untuk bersikap kikir. Ini menjadi pelajaran penting bahwa dosa akan semakin besar ketika keburukan dipromosikan atau dinormalisasi. Dalam praktik sehari-hari, seorang muslim dituntut menjadi teladan dalam kebaikan, bukan justru mempengaruhi lingkungan agar menjauh dari amal sosial dan kepedulian.
- Nikmat Allah harus tampak dalam perilaku
Ayat ini mengisyaratkan bahwa syukur bukan hanya ucapan, tetapi harus tercermin dalam sikap dan tindakan. Nikmat Allah semestinya tampak dalam kedermawanan, kesederhanaan, dan kepedulian sosial. Dalam kehidupan modern, hal ini dapat diwujudkan dengan gaya hidup yang tidak berlebihan serta kesiapan berbagi kepada mereka yang membutuhkan.
- Keterkaitan antara kebakhilan dan kekufuran nikmat
Ancaman “azab yang menghinakan” menunjukkan bahwa kebakhilan merupakan bentuk pengingkaran terhadap nikmat Allah.
Pelajaran pentingnya adalah bahwa iman sejati harus melahirkan sikap dermawan dan peduli. Semakin kuat iman seseorang, seharusnya semakin ringan tangannya untuk memberi. Dengan demikian, di era modern saat ini dimana sarana untuk berbagi kepada sesama semakin canggih.
Berbagi kepada sesama tidak harus langsung bertatap muka akan tetapi bisa dengan cara lain yakni menggunakan handphone yang kita punya dengan cara transfer antar bank atau melalui platform lain yang lebih mudah. Sehingga tidak ada alasan untuk tidak berbagi harta kepada sesama karna berbagi itu indah dan membahagiakan bagi orang yang menerima pemberian sebagian harta kita.
Dan hendaknya kita sebagai makhluk sosial jangan sampai berlaku kikir dan jangan sampai kita mengajak orang lain untuk berbuat keburukan, karena banyak mudharat yang akan kita dapatkan jika kita kikir dan mengajak orang lain untuk berbuat keburukan, dan adzab Allah sangatlah keras lagi menghinakan.






