Mager Bikin Baper
Ketika mager bertemu dengan baper, dampaknya sering kali melahirkan hal-hal yang tidak dianjurkan dalam agama, seperti membuang-buang waktu (tadzyi’ul waqt). Waktu luang yang seharusnya dapat digunakan untuk ibadah, belajar, atau membantu orang tua malah habis terkuras untuk berandai-andai.
Baper yang dipelihara tanpa kejelasan juga mendatangkan penyakit hati berupa rasa galau, cemas berlebihan, dan lalai dari mengingat Allah. Hati manusia diciptakan untuk tenang dengan mengingat-Nya, bukan tersiksa oleh ketidakpastian makhluk.
Di era modern, baper sering menjadi alasan untuk terus-menerus berkirim pesan secara berlebihan dengan nonmahram. Aktivitas yang awalnya sekadar iseng mengisi waktu luang berangsur-angsur bergeser menjadi obrolan yang melenceng dari batas syariat.
Islam tidak melarang seseorang merasa tertarik pada orang lain, tetapi menganjurkan agar energi dan perasaan tersebut disalurkan dengan cara yang terhormat melalui pernikahan. Jika belum mampu, jalan yang ditempuh adalah menjaga kehormatan diri dengan bersabar serta menyibukkan diri pada hal-hal produktif.
Sebaliknya, ketika rasa malas datang, penawarnya adalah segera bergerak, berwudu, atau mengalihkan pikiran pada aktivitas yang mengundang keridaan Allah. Dengan demikian, ruang kosong di dalam pikiran tidak diisi oleh hal-hal yang melemahkan iman dan produktivitas.[]






