OASE

Mahram yang Disalahpahami

Suami saudari tidak termasuk di dalamnya. Ia tetap non-mahram. Artinya, batas aurat dan interaksi tetap berlaku. Di sinilah sering muncul ketegangan halus antara norma sosial dan norma agama. Banyak orang merasa canggung jika harus menjaga jarak dengan ipar, karena secara emosional sudah dianggap keluarga. Namun, hukum tidak dibangun di atas rasa canggung, melainkan prinsip yang konsisten.

Keponakan: Yang Sering Terlewatkan

Menariknya, di tengah berbagai kekeliruan, ada satu hal yang justru sering benar tetapi kurang disadari: keponakan laki-laki adalah mahram bagi seorang perempuan. Anak dari saudara kandung, baik laki-laki maupun perempuan, masuk dalam kategori yang haram dinikahi selamanya.

Ini mungkin terasa kurang intuitif bagi sebagian orang. Sebab, dalam kenyataan, keponakan tidak selalu lebih muda—ia bisa sebaya, bahkan jauh lebih tua. Namun, dalam struktur nasab, ia tetap berada dalam garis keturunan yang mengikat. Hubungan ini bersifat permanen, tidak berubah oleh waktu atau kondisi. Usia boleh berubah, posisi sosial bisa bergeser, tetapi garis nasab tetap berdiri sebagai penentu.

Di sinilah letak kekuatan sekaligus keunikan konsep mahram. Ia tidak tunduk pada dinamika sosial yang cair, melainkan pada struktur yang relatif tetap. Apa yang dalam keseharian terasa ganjil—misalnya seorang perempuan harus memperlakukan keponakan yang lebih tua sebagai mahram—justru menjadi masuk akal ketika dilihat dari kerangka hukum yang lebih luas.

Antara Visual dan Pemahaman

Fenomena infografik keagamaan mencerminkan kebutuhan zaman: informasi harus cepat, ringkas, dan mudah dibagikan. Namun, dalam upaya menyederhanakan, ada risiko reduksi makna. Konsep yang seharusnya dipahami secara bertahap dipadatkan dalam satu halaman visual.

Mahram bukan sekadar daftar nama dalam bagan keluarga. Ia adalah bagian dari sistem hukum yang memiliki logika internal. Tanpa memahami logika itu, pembaca hanya menghafal tanpa mengerti. Dan ketika situasi nyata muncul—dalam pergaulan, dalam keluarga besar—kebingungan pun tak terhindarkan.

Infografik bisa menjadi pintu masuk, tetapi bukan tujuan akhir. Ia perlu dilengkapi dengan penjelasan, diskusi, dan—yang tak kalah penting—kesadaran bahwa tidak semua yang tampak sederhana benar-benar sesederhana itu. Dalam konteks inilah, literasi keagamaan menjadi penting: bukan sekadar tahu, tetapi memahami.

Menjaga Batas, Menjaga Makna

Pada akhirnya, pembahasan tentang mahram bukan sekadar soal siapa boleh disentuh atau tidak. Ia menyentuh dimensi yang lebih dalam: bagaimana manusia menjaga batas dalam relasi, bahkan dengan orang yang paling dekat sekalipun. Dalam dunia yang semakin cair, di mana batas-batas sosial sering dilonggarkan, konsep ini justru menawarkan ketegasan.

Namun, ketegasan itu hanya bermakna jika dipahami dengan benar. Infografik yang beredar bisa menjadi awal percakapan, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya rujukan. Di balik garis-garis sederhana itu, ada struktur hukum yang menuntut ketelitian.

Dan mungkin, di situlah pelajaran terbesarnya: bahwa tidak semua yang terasa dekat itu tanpa batas. Kedekatan emosional tidak selalu berbanding lurus dengan kedekatan hukum. Kadang, justru dengan memahami batas, hubungan menjadi lebih jernih—dan lebih terjaga maknanya. []

Muhibbullah Azfa Manik

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button