INTERNASIONAL

Masjidil Aqsha dalam Bahaya

Perubahan yang Dinilai Belum Pernah Terjadi

Pakar urusan Yerusalem, Abdullah Marouf, menyatakan bahwa penyerbuan kali ini disertai sejumlah tindakan yang belum pernah terjadi sejak pendudukan Yerusalem pada 1967.

Menurutnya, salah satu perkembangan paling menonjol adalah pelaksanaan ritual yang dikenal sebagai “sujud epik” oleh kelompok pemukim di halaman Masjid Al-Aqsha. Selain itu, untuk pertama kalinya mereka diizinkan mendirikan kanopi di halaman timur, dekat area salat Bab al-Rahma.

Marouf menilai langkah-langkah tersebut merupakan tahapan baru menuju penerapan pembagian ruang di dalam kompleks masjid, setelah sebelumnya Israel berupaya menerapkan pembagian waktu penggunaan kawasan tersebut.

Ia mengatakan bahwa berdasarkan perkembangan terbaru, halaman timur Masjid Al-Aqsha mulai diperlakukan sebagai kawasan yang dikhususkan bagi para pemukim. Menurutnya, kondisi ini dapat menjadi pintu masuk bagi upaya penguasaan permanen atas bagian kompleks tersebut.

Upaya Memaksakan Realitas Baru

Bersamaan dengan penyerbuan itu, pasukan Israel menerapkan pembatasan yang semakin ketat terhadap warga Palestina yang hendak memasuki Masjid Al-Aqsha.

Untuk pertama kalinya, mereka melarang warga Palestina berusia di bawah 75 tahun memasuki kompleks masjid. Sebagian besar pegawai dan penjaga Departemen Wakaf Islam juga dilarang menjalankan tugas mereka di dalam kawasan Al-Aqsha.

Pemerintah Provinsi Yerusalem menyebut hanya sebagian kecil jamaah yang berhasil menunaikan salat Subuh sebelum pasukan Israel membubarkan mereka. Pembatasan ketat juga terus diberlakukan di seluruh gerbang Masjid Al-Aqsha dan kawasan Kota Tua Yerusalem.

Marouf menilai langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari percepatan upaya Israel untuk menciptakan realitas baru di Masjid Al-Aqsha dengan memanfaatkan situasi politik dan kondisi regional. Menurutnya, partai-partai sayap kanan Israel juga menggunakan isu Al-Aqsha sebagai bagian dari persaingan politik domestik.

Perjuangan Dinilai Masih Terbuka

Meski situasi semakin berat, Abhais menegaskan bahwa berbagai agresi dan upaya mengubah status Masjid Al-Aqsha tidak berarti perjuangan untuk mempertahankannya telah berakhir.

Sebaliknya, menurutnya, kondisi tersebut justru menuntut penguatan kembali tekad seluruh pihak yang selama ini membela Al-Aqsha serta melanjutkan pengalaman sejarah dalam menghadapi proyek Yahudisasi.

Ia menjelaskan bahwa perjuangan mempertahankan Al-Aqsha selama ini dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari aksi duduk, demonstrasi, mobilisasi masyarakat, berbagai bentuk perlawanan lainnya, hingga kampanye media dan advokasi publik di Palestina maupun di tingkat internasional.

Menurut Abhais, keberagaman metode perjuangan itulah yang selama beberapa dekade menjadi salah satu faktor utama yang mampu memperlambat berbagai proyek Yahudisasi di kawasan Masjid Al-Aqsha.

Ia menutup keterangannya dengan menegaskan bahwa pengalaman panjang mempertahankan Al-Aqsha merupakan modal penting yang harus terus dijaga. Baginya, menghidupkan kembali semangat perlawanan menjadi langkah awal yang paling mendasar untuk menghadapi meningkatnya upaya Yahudisasi terhadap Masjid Al-Aqsha.[]

sumber: infopalestina

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button