NUIM HIDAYAT

Media Sosial: Manfaat dan Bahayanya

  1. Ketergantungan dan Kesehatan Mental

Kecanduan media sosial juga menjadi fokus pakar kesehatan. Interaksi berlebihan di medsos dapat menyebabkan gangguan tidur, kecemasan, hingga menurunnya kualitas hidup, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda.

  1. Penyebaran Propaganda dan Konten Berbahaya

Peristiwa luar negeri memberi contoh nyata: selama genosida di Gaza oleh Zionis Israel, platform seperti X (Twitter) dikritik karena penyebaran informasi yang salah dan konten yang memicu kebingungan dan ketegangan.

Serangan algoritma yang mendorong unggahan sensasional tanpa verifikasi kebenaran memperparah situasi, bahkan di luar negara yang mengalami konflik langsung.

Menurut laporan terbaru, berikut adalah platform medsos global dengan pengguna terbanyak:

  1. Facebook: ±3,07 miliar pengguna
  2. YouTube: ±2,53 miliar pengguna
  3. Instagram: ±2 miliar pengguna
  4. WhatsApp: ±2 miliar pengguna
  5. TikTok: ±1,69 miliar pengguna
  6. WeChat, Telegram, X (Twitter) dan lain-lain

Dengan jumlah demikian besar, setiap konten di platform besar itu berpotensi menjadi berita utama yang dibaca jutaan orang — baik itu benar maupun tidak.

Para peneliti menekankan bahwa literasi digital adalah kunci pemberdayaan pengguna media sosial agar tidak mudah termakan informasi palsu sekalipun dikemas menarik. Ini termasuk kemampuan mengenali hoaks, konfirmasi sumber, serta skeptisisme sehat terhadap berita sensasional.

Survei global oleh panel akademisi menyatakan bahwa dua pertiga ahli percaya informasi di media sosial semakin buruk, dan platform harus lebih agresif dalam perlindungan konten serta literasi pengguna.

Tidak dapat dipungkiri, media sosial telah mendemokratisasi informasi. Siapapun dapat menjadi reporter, analis, aktivis, bahkan “ahli” dalam sekejap. Tanpa ijazah komunikasi atau kartu pers, masyarakat bisa menyajikan fakta, opini, hingga dugaan.

Di sisi lain, media massa juga mengalami krisis kepercayaan. Ada yang menuduh media massa berpihak pada kepentingan tertentu, tidak netral, atau terlalu dekat dengan sumber kekuasaan dan korporasi. Namun perlu digarisbawahi, media massa bekerja dalam kerangka aturan, setidaknya secara ideal: Kode Etik Jurnalistik, Mekanisme Verifikasi & Klarifikasi, Hak Jawab, Koreksi Redaksi dan Pertanggungjawaban Hukum.

Seorang jurnalis tidak bisa menulis berdasarkan rumor semata, atau mengutip postingan anonim di forum tanpa konfirmasi. Bila salah, media massa bisa dilaporkan, dituntut, bahkan dicabut izinnya.

Sementara di medsos? Kesalahan informasi bisa dihapus tanpa jejak, atau sekadar diubah seolah tidak pernah ada. Tidak ada memori kolektif kesalahan. Itulah sebabnya, dalam kebingungan informasi, banyak masyarakat kembali menjadikan media massa sebagai ruang konfirmasi.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button