Melawan Hawa Nafsu, Mengapa Jadi Jihad Terbesar?
Melalui pemaparan tersebut, sejatinya saat berkecamuk perang pun seseorang dituntut melakukan jihad melawan kehendak nafsunya sendiri. Dia harus memaksa dirinya sendiri untuk senantiasa bertahan di garis depan pertempuran dan membuang keinginan pulang ke rumah.
Sebagaimana tabiat dasarnya, nafsu manusia selalu condong pada kenyamanan hidup dan enggan mengerjakan sesuatu yang terasa berat. Keikutsertaan dalam sebuah pertempuran secara otomatis akan merenggut seluruh rasa nyaman yang disenangi oleh ego manusia.
Ada alasan mendasar lain yang mendukung mengapa perang mengendalikan diri ini nilainya jauh lebih berat. Jika seseorang gugur dalam medan perang melawan orang kafir, ia mendapat balasan surga melalui jalur mati syahid.
Namun, jika seseorang kalah dan gagal dalam mengendalikan nafsunya, taruhannya di akhirat kelak adalah siksa api neraka. Kegagalan tersebut bermakna bahwa kendali diri manusia telah sepenuhnya ditundukkan dan disetir oleh syahwatnya sendiri.
Ketika diri sudah takluk, nafsu akan menggiring manusia pada kemalasan, kemaksiatan, serta kelalaian dalam menunaikan kewajiban. Perilaku menyimpang yang memperturutkan syahwat inilah yang pada akhirnya akan menyeret manusia masuk ke dalam neraka.
Hal ini senada dengan nasihat spiritual dari sebagian ulama mengenai karakteristik dasar dari ego manusia.
فالنفس أمارة بالسوء، إن لم تشغلها بالطاعة شغلتك بالمعصية
“Nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan. Jika kamu tidak menyibukkannya dengan ketaatan, ia akan menyibukkanmu dengan kemaksiatan.”[]
Ahmad Dhiyaul Lamik, Mahasantri Ma’had Aly Semester 5.





