Menafsir Ulang Semangat Pemuda 2025
Di Tengah Polarisasi dan Keletihan Kolektif
Indonesia kini bukan negeri yang sedang dijajah, tapi tetap berperang—melawan polarisasi politik, intoleransi, dan ketimpangan digital. Di media sosial, wacana sering pecah menjadi dua kubu yang saling serang. Dalam situasi seperti ini, semangat Sumpah Pemuda terasa relevan sekaligus menantang.
Rafi, sang pembuat konten tadi, mengaku sering kelelahan menghadapi komentar pedas di kanalnya. “Kadang aku cuma ingin bilang: kita ini satu bangsa, bukan satu algoritma,” ujarnya lirih. Ia memilih mengedukasi pengikutnya soal literasi digital dan jurnalisme warga, alih-alih terjebak debat tanpa ujung.
Pendidikan dan Kepemimpinan Baru
Pendidikan adalah kunci agar semangat Sumpah Pemuda tak berhenti di slogan. Namun pendidikan juga harus berubah. Kurikulum kita masih terlalu menekankan hafalan, bukan pembentukan karakter kritis. “Kita butuh generasi yang bisa memimpin dengan empati, bukan hanya dengan IPK tinggi,” ujar Ahmad, salah seorang tokoh 98.
Ia mengusulkan agar pendidikan kebangsaan di sekolah memasukkan topik-topik kontemporer: etika digital, keberlanjutan, dan kewirausahaan sosial. “Itu cara baru menumbuhkan nasionalisme yang kontekstual.”
Satu Semangat, Banyak Jalan
Hampir seabad setelah Kongres Pemuda II, Indonesia kini diisi oleh lebih dari 70 juta anak muda. Mereka bukan lagi hanya pelajar dan mahasiswa, tapi juga gamer, content creator, coder, aktivis lingkungan, dan petani urban. Mereka menulis, berinovasi, dan mempengaruhi opini publik dari layar ponsel.
Perbedaan bentuk tak menghapus substansi: semangat untuk mencari makna kebersamaan dalam keberagaman. Bila pemuda 1928 menyatukan bahasa untuk melawan penjajah, maka pemuda 2025 menyatukan platform untuk melawan keterpecahan.
Sore mulai turun di Menteng. Rafi menutup rekaman videonya dengan membaca ulang teks Sumpah Pemuda. “Kami putra dan putri Indonesia…” suaranya terdengar mantap, meski diselingi suara kendaraan yang lalu-lalang.
Ia lalu menatap layar ponselnya, memastikan hasil rekaman tersimpan dengan baik. “Dulu mereka menulis di kertas,” katanya. “Sekarang kami menulis di cloud. Tapi semangatnya tetap sama—mencintai Indonesia dengan cara zaman kami.”
Penutup
Sembilan puluh tujuh tahun setelah Sumpah Pemuda dikumandangkan, bangsa ini masih terus belajar bersatu. Tidak lagi hanya lewat rapat dan manifesto, tetapi lewat feed, thread, dan algoritma. Tantangannya bukan sekadar menjaga memori sejarah, tapi menghidupkan nilai-nilainya dalam dunia yang terus berubah.
Karena persatuan tak pernah selesai—ia harus diperbarui di setiap zaman.[]
* Muhibbullah Azfa Manik, Dosen di sebuah kampus di Padang, Sumatera Barat.






