RESONANSI

Menafsir Ulang Semangat Pemuda 2025

Oleh: Muhibbullah Azfa Manik*

Pagi di akhir Oktober ini, udara di kawasan Kramat Raya terasa lembap setelah hujan dini hari. Di halaman Museum Sumpah Pemuda, sekelompok mahasiswa berjaket almamater berkumpul, berswafoto di depan patung tiga pemuda yang berdiri tegap. Di antara mereka, seorang pemuda berkaus hitam bertuliskan “Indonesia Unite in Digital Era” tampak sibuk menyiapkan tripod dan kamera.

Namanya Rafi Prasetyo, 22 tahun, mahasiswa komunikasi yang tengah menyiapkan konten peringatan Hari Sumpah Pemuda 2025 untuk kanal YouTube-nya.

“Dulu mereka bersatu lewat kongres,” ujarnya sambil tersenyum. “Sekarang, kita bersatu lewat jaringan.”

Kalimat Rafi, entah disadari atau tidak, merangkum paradoks generasi muda hari ini. Sumpah Pemuda—yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 oleh 71 utusan organisasi pemuda dari berbagai daerah—menjadi simbol lahirnya kesadaran kebangsaan. Tapi hampir seabad kemudian, semangat “bertumpah darah satu, berbangsa satu, berbahasa satu” diuji oleh zaman yang berbeda: zaman algoritma, filter bubble, dan clickbait.

Dari Tinta ke Layar

Dalam catatan sejarah, para pemuda 1928 menembus sekat etnis dan kedaerahan untuk memperjuangkan ide yang belum populer: Indonesia sebagai satu identitas. Mereka membaca koran, berdiskusi di asrama, menulis manifesto. Kini, pemuda membaca timeline, berdiskusi di group chat, dan menulis di kolom komentar.

Teknologi telah mengubah bentuk pergerakan, tapi tidak otomatis melahirkan semangat yang sama. Dunia digital memberi ruang bagi semua orang untuk bersuara, namun juga menciptakan gelembung yang mempersempit empati. Di sinilah makna Sumpah Pemuda perlu ditafsir ulang—bukan sekadar seremoni mengenakan batik dan menyanyikan lagu kebangsaan, tapi refleksi tentang bagaimana persatuan bekerja di ruang virtual.

Sosiolog muda Dinda Kartasasmita, berpendapat bahwa tantangan utama generasi sekarang adalah menjaga akal sehat di tengah derasnya informasi. “Kalau dulu semangat persatuan lahir dari pertemuan fisik, kini harus lahir dari literasi digital,” ujarnya. “Kita perlu mengajarkan bagaimana bersatu tanpa harus seragam, berdebat tanpa harus bermusuhan.”

Pemuda, Inovasi, dan Krisis Iklim

Perubahan zaman juga membawa definisi baru tentang peran pemuda. Mereka tak lagi hanya diminta menjadi “tulang punggung bangsa”, tetapi juga inovator, pengusaha sosial, dan penjaga bumi. Di Yogyakarta, sekelompok pemuda yang menamakan diri Lestari Movement mengubah limbah kopi menjadi bahan bakar alternatif. Pendiri gerakan itu, Nanda Putri (24), menuturkan bahwa semangat Sumpah Pemuda baginya adalah keberanian untuk bertindak meski kecil.

“Kalau dulu mereka bersatu untuk merdeka, sekarang kami bersatu untuk menjaga yang sudah merdeka,” katanya. “Kedaulatan kita sekarang bukan lagi melawan penjajahan, tapi melawan ketergantungan—energi fosil, konsumsi berlebih, dan mental instan.”

Kata-kata Nanda terasa menggema di tengah situasi dunia yang semakin genting oleh krisis iklim dan ketimpangan sosial. Generasi muda kini memikul dua beban sekaligus: memperjuangkan masa depan, sambil memperbaiki masa kini yang rusak oleh generasi sebelumnya.

Belajar dari Masa Lalu

Dalam setiap tonggak sejarah bangsa, pemuda selalu memainkan peran vital. Mereka menggugat kemapanan, menolak diam, dan menantang otoritas. Tapi, seperti pernah diingatkan sejarawan Anhar Gonggong, semangat itu harus berakar pada kesadaran sejarah. “Sumpah Pemuda bukan peristiwa ajaib yang muncul tiba-tiba,” ujarnya. “Itu hasil dari proses panjang pembentukan kesadaran nasional di tengah kolonialisme.”

Anhar menambahkan, bahaya generasi digital adalah kehilangan konteks sejarah. Banyak yang mengenang Sumpah Pemuda hanya sebatas caption media sosial. “Kalau mereka tahu bagaimana beratnya menyatukan identitas waktu itu, mungkin lebih menghargai arti persatuan hari ini.”

1 2Laman berikutnya
Back to top button