Meneladani Rasulullah Muhammad saw
Rasulullah saw. juga menyiapkan pasukan militer untuk membela kedaulatan negara Islam Madinah dari ancaman luar. Kesatuan militer ini siap bertempur membela kehormatan Islam dan kaum muslimin melalui aktivitas jihad fii sabilillah.
Ketika duta besar Rasulullah saw. dibunuh oleh penguasa asing, beliau langsung mengirimkan pasukan perang untuk menuntut keadilan dan membela kehormatan negara.
Salah satu contohnya adalah pengiriman pasukan pada Perang Mu’tah di bawah komando Zaid bin Haritsah r.a., Ja’far bin Abu Thalib r.a., dan Abdullah bin Rawahah r.a., yang pada akhirnya berhasil dimenangkan oleh kaum muslimin.
Pengiriman pasukan perang ini menegaskan kembali kapasitas Rasulullah saw. sebagai sosok pemimpin sejati.
Pertempuran yang melibatkan pasukan kaum muslimin dan pasukan Kaisar Heraklius menjadi jalan bagi perluasan pengaruh negara Madinah. Islam pun makin dikenal dan berkembang pesat seiring keberhasilan pembebasan wilayah (futuhat) atas perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya.
Rekam jejak kepemimpinan Rasulullah saw. ini kemudian dilanjutkan secara gemilang oleh para Khulafaur Rasyidin dan para khalifah setelahnya.
Hasilnya, kebutuhan dalam negeri rakyat terjamin, sementara dalam pergaulan internasional, Islam menjadi mercusuar peradaban dunia selama lebih dari 1.400 tahun.
Oleh karena itu, tidak ada jalan lain bagi kaum muslimin untuk meraih kembali kebangkitannya selain meneladani kepemimpinan Rasulullah saw. dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, maupun bernegara.
Meneladani beliau tidak hanya mendatangkan pahala, tetapi juga menjadi solusi atas berbagai permasalahan hidup serta memancarkan cahaya kegemilangan peradaban. Dengan demikian, Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dapat terwujud secara nyata.
Firman Allah Swt.:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab [33]: 21)
Wallahu a’lam.
Ayu Mela Yulianti, S.Pt. (Pegiat Literasi dan Pemerhati Kebijakan Publik)






