MUHASABAH

Peringatan Maulid: Meneladani Risalah dan Perjuangan Nabi Saw

Oleh: Imas Rukmini, Mahasiswa.

Setiap tahun, umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. dengan berbagai bentuk kegiatan, mulai dari pembacaan selawat, tablig akbar, pengajian hingga pawai obor. Berbagai kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mengungkapkan kecintaan kepada Rasulullah saw. Namun, momentum Maulid seharusnya tidak berhenti pada aspek seremonial dan emosional.

Lebih dari itu, Maulid perlu menjadi kesempatan untuk memahami kembali risalah yang dibawa Rasulullah saw. dan meneladaninya dalam kehidupan.

Pembahasan ittiba’ kepada Nabi saw. pada momentum Maulid masih dibatasi pada keteladanan akhlak, belum menyentuh kesadaran mengubah sistem jahiliah—penghambaan kepada dunia dan hawa nafsu—menuju sistem Islam yang menegakkan penghambaan hanya kepada Allah.

Tuntutan perubahan sebenarnya telah muncul di kalangan umat Islam, namun arah dan metodenya masih sangat jauh dari metode perjuangan Rasulullah saw.

Saat ini, peringatan Maulid tereduksi menjadi ekspresi kecintaan tanpa konsekuensi penerapan dalam seluruh aspek kehidupan. Padahal, cinta kepada Rasulullah saw. harus melahirkan keterikatan pada risalah dan perjuangan yang Beliau bawa.

Kita sudah 1400 tahun merayakan Maulid. Tapi kenapa keadaan umat masih begini-begini saja dan bahkan terpuruk. Karena cinta kita ke Rasulullah saw. sering berhenti pada aspek “emosi”.

Kita hapal selawat, tapi belum tentu memahami sistem yang Beliau perjuangkan. Kita kagum akhlaknya, tapi belum tentu berani menolak sistem yang bertentangan dengan risalahnya.

Padahal Allah Swt. berfirman: “Katakanlah: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku” (QS. Ali ‘Imran: 31). Ayat ini menunjukkan bahwa cinta kepada Rasulullah saw. harus diwujudkan dengan ittiba’, yaitu mengikuti petunjuk dan ajaran Beliau.

Rasulullah saw. tidak hanya mengajarkan kesalihan individual, tetapi juga membangun masyarakat yang menjadikan tauhid sebagai landasan kehidupan. Beliau menghadapi berbagai bentuk kejahiliahan yang menempatkan manusia, harta, kekuasaan, dan hawa nafsu sebagai orientasi kehidupan.

Karena itu, meneladani Rasulullah saw. semestinya mendorong umat untuk melakukan perbaikan kehidupan secara menyeluruh, bukan hanya memperbaiki perilaku secara individual. Umat telah kehilangan kesadaran bahwa penghambaan kepada selain Allah masih berlangsung secara sistemik.

Hal ini berlangsung melalui penerapan sistem kapitalisme dan liberalisme yang menjadikan dunia serta hawa nafsu sebagai orientasi hidup.

Dulu Rasulullah saw. tidak hanya melawan akhlak buruk orang Quraisy. Beliau melawan sistem jahiliah, baik berupa riba, perbudakan, hukum rimba, termasuk menyembah selain Allah Swt.

Adapun hari ini bentuknya beda nama saja. Yang mengajak kita menghamba pada dunia dan hawa nafsu sekarang datang dengan bungkus: Kapitalisme, Sekularisme, Liberalisme.

Hasilnya yang terjadi saat ini adalah agama dipisah dari negara, riba dilegalkan, kemiskinan struktural, dan umat dipaksa “cukup jadi baik secara pribadi” tetapi diam saat sistem mendzalimi. Maulid harusnya menyadarkan kita bahwa musuh bukan hanya “dosa pribadi”, tapi juga “sistem yang melahirkan dosa massal” dan kita terhalang dalam perubahan sistem.

Rasulullah saw. adalah teladan utama dalam membangun perubahan. Dakwah Beliau dimulai dengan membina keimanan dan kepribadian para sahabat, kemudian membangun hubungan dengan masyarakat hingga akhirnya terbentuk masyarakat Islam di Madinah.

Dari perjalanan tersebut, umat dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya pendidikan, keteladanan, kesabaran, dialog, dan perjuangan yang terarah. Dengan metode inilah kehidupan Islam akan tegak kembali, sehingga Islam benar-benar hadir sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Jadikan Maulid sebagai re-start komitmen. Komitmen untuk belajar syariat, komitmen untuk berjuang mengubah keadaan, komitmen untuk mengembalikan Islam sebagai sistem kehidupan, bukan hanya ritual pribadi.

Kalau cinta kita ke Nabi saw. benar, maka buktinya adalah kita berani melanjutkan perjuangannya.

Pada akhirnya, Maulid bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah saw., tetapi momentum untuk “menghidupkan kembali risalah Beliau dalam kehidupan”.

Selawat perlu melahirkan kecintaan, kecintaan melahirkan ittiba’, dan ittiba’ mendorong kita menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan Islam secara keseluruhan. Wallahu’alam bishawwab.[]

BACA JUGA
Close
Back to top button