MUHASABAH

Refleksi Peringatan Maulid: Mengagungkan atau Justru Mengerdilkan Rasulullah?

Oleh: Abd. Mukti (Pemerhati Kehidupan Beragama)

Sebagai salah satu wujud mahabbah terhadap Rasulullah saw., umat Islam di bulan Rabiulawal senantiasa memperingati hari kelahiran beliau. Peringatan tersebut tentu dilaksanakan bukan semata-mata karena kelahiran beliau sebagai seorang manusia biasa.

Peringatan Maulid Nabi yang dilaksanakan setiap tahunnya tentu berlandaskan pada posisi beliau yang sangat istimewa sebagai Rasul pembawa risalah dan syariat Allah Swt. Hal itulah yang ditegaskan langsung oleh Allah Swt. dalam Al-Qur’an:

قُلۡ اِنَّمَاۤ اَنَا بَشَرٌ مِّثۡلُكُمۡ يُوۡحٰٓى اِلَىَّ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku…’” (Q.S. Fussilat: 6).

Sebagai pembawa risalah Islam, Rasulullah saw. dikokohkan langsung oleh Allah Swt. sebagai pengemban akhlak yang agung. Hal ini sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Qur’an:

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (Q.S. Al-Qalam: 4).

Aisyah Ummul Mukminin r.a. pernah ditanya oleh sahabat mengenai gambaran akhlak Rasulullah saw. Beliau memberikan jawaban yang sangat ringkas namun padat makna:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Al-Qur’an.” (H.R. Muslim).

Berdasarkan Al-Qur’an dan hadis di atas, dapat disimpulkan bahwa keagungan Nabi Muhammad saw. terletak pada akhlak beliau. Sementara itu, akhlak beliau merupakan cerminan dari keagungan Al-Qur’an karena seluruh budi pekerti dan perilaku Rasulullah saw. mencerminkan isi Al-Qur’an.

Dengan demikian, maksud dari memuliakan dan mengagungkan Rasulullah saw. sebagai motif kaum muslim dalam memperingati Maulid Nabi sejatinya adalah memuliakan dan mengagungkan Al-Qur’an.

Baginda Rasulullah saw. memiliki akhlak Al-Qur’an karena beliau mengamalkan seluruh reaches isi Kitab Suci tersebut dan menerapkan hukum-hukumnya. Hal ini mencakup perkara akidah, ibadah, muamalah (sosial, pendidikan, politik, pemerintahan, dan keamanan), hingga ‘uqubat (hukum dan peradilan).

Memposisikan Al-Qur’an hanya sekadar sebagai kitab bacaan bukanlah sikap mengagungkan Al-Qur’an. Mengamalkan sebagian kecil isi Al-Qur’an saja, misalnya terbatas pada perkara akidah, ibadah, dan akhlak pribadi, juga bukan wujud mengagungkan Al-Qur’an.

Sikap parsial demikian justru mengerdilkan keagungan Al-Qur’an. Hal itu secara tidak langsung berarti mengerdilkan keagungan Nabi Muhammad saw. sebagai representasi hidup dari Al-Qur’an.

Anehnya, disadari atau tidak, sikap itulah yang selama ini ditunjukkan oleh sebagian besar umat Islam. Fenomena ini terus berulang seiring dengan peringatan Maulid Nabi yang saban tahun dilaksanakan oleh masyarakat.

1 2 3Laman berikutnya
Back to top button